Minggu, 18 Agustus 2019 | 04:18 WIB

Kunjungi di social media :
Home / Logistik / Industri
Selasa, 26 Mei 2015 11:05

KEK Bitung: BBM Industri Mahal, Investor Enggan Masuk

Hery Lazuardi
KEK Bitung

BITUNG - Kawasan Ekonomi Khusus (KEK) Bitung, Sulawesi Utara, dinilai sulit bersaing dan kurang menarik minat investor akibat kebijakan pemerintah yang salah dalam menetapkan harga bahan bakar minyak dan moratorium transhipment.

Anggota Komisi VI DPR Bambang Haryo Soekartono mengungkapkan pembangunan infrastuktur dan sarana logistik di KEK Bitung tidak akan mampu menarik minat investor selama pemerintah belum mengubah kebijakannya.

"KEK masih menjadi mimpi, sebagai contoh harga BBM jenis solar untuk kapal dan industri PT Pertamina saat ini masih Rp11.300, bandingkan dengan harga BBM jenis yang sama di Filipina dan Malaysia yang hanya sekitar Rp6.000," kata Bambang, Jumat (9/5/2015).

Dia mengungkapkan hal itu setelah mengunjungi lokasi KEK dan industri perikanan yang menjadi andalan Kota Bitung.
Menurut politisi Partai Gerindra tersebu, pemerintah masih memiliki setumpuk pekerjaan rumah untuk meningkatkan daya saing industri, termasuk di Bitung.

Namun, sektor perikanan yang menjadi andalan Bitung justru ‘ditekan' dengan keputusan Menteri Kelautan dan Perikanan Susi Pujiastuti mengenai moratorium transhipment.

"Janganlah hantam kromo, menyamaratakan maling ikan dengan pengusaha perikanan yang hasil tangkapannya masih masuk ke Bitung," ujar Bambang.

  (hlz/adm)


Komentar