Kamis, 14 November 2019 | 02:38 WIB

Visit our social media :
Home / Transportation / Trucking
Kamis, 18 Juni 2015 11:13

SCI Tolak Usul Tarif Tol Pantura Dinaikkan

Hery Lazuardi
Pintu jalan tol (Jasa Marga)

JAKARTA - Supply Chain Indonesia (SCI) menolak usulan Asosiasi Logistik Indonesia (ALI) agar pemerintah menetapkan tarif jalan tol di jalur Pantai Utara lebih tinggi guna mendorong pengalihan distribusi barang dalam jumlah besar ke moda kereta api dan kapal laut.

Menurut Ketua Umum SCI Setijadi, usulan ALI tersebut kontraproduktif terhadap upaya untuk meningkatkan efisiensi logistik nasional.

"Kenaikan tarif tol akan semakin membebani usaha trucking karena biaya operasional, biaya depresiasi, dan biaya maintenance saat ini sudah sangat tinggi," katanya seperti dikutip dalam laman resmi SCI, Rabu (17/6/2015).

Biaya yang tinggi itu terutama karena tingkat utilisasi armada yang rendah akibat kemacetan dan antrean di simpul logistik seperti pelabuhan, serta tingkat kerusakan jalan yang tinggi.

Di lain sisi, peranan moda transportasi jalan sangat penting dengan mengangkut sekitar 90% volume barang di Indonesia. Trucking diperlukan karena aksesibilitas yang tinggi. Dalam penggunaan kapal dan kereta untuk pengangkutan barang pun, trucking tetap diperlukan sebagai feeder.

"Jika tarif jalan tol dinaikkan bagi armada pengangkut barang, hal ini akan berdampak pula terhadap biaya logistik yang akan ditanggung perusahaan-perusahaan manufaktur dan pemilik barang lainnya," ujarnya.

Dia berpendapat upaya pengalihan pengangkutan barang dari moda transportasi jalan (trucking) ke moda transportasi laut dan rel kereta api, seharusnya bukan dilakukan dengan menaikkan biaya transportasi jalan.

Menurut Setijadi, lebih tepat apabila upaya dilakukan dengan mengefisienkan moda transportasi laut dan rel kereta api, serta mengintegrasikannya dalam suatu sistem transportasi multimoda dengan transportasi laut sebagai backbone.

SCI mengusulkan peningkatan efisiensi moda transportasi laut dan rel kereta dilakukan melalui kebijakan penggunaan BBM bersubsidi untuk kapal pengangkut barang dan kereta api, pemberian insentif bagi kapal barang dan kereta api sebagai moda transportasi rendah karbon, serta peningkatan kapasitas, fasilitas, dan produktivitas pelabuhan dan stasiun kereta api.

Selain itu, efisiensi juga dapat dilakukan dengan meningkatkan aksesibilitas antara pelabuhan dan stasiun kereta api dengan titik asal/tujuan barang, seperti kawasan industri.

Pengintegrasian antar moda transportasi, lanjutnya, juga dapat dilakukan, termasuk dengan membangun akses rel ke pelabuhan.

"Jika sistem transportasi multimoda sudah terbentuk, dengan sendirinya akan terjadi pengalihan muatan ke moda transportasi yang lebih efisien," jelasnya.
(hlz/hlz)


Komentar