Jumat, 19 Juli 2019 | 06:58 WIB

Kunjungi di social media :
Home / Transportasi / Angkutan Darat
Senin, 29 Juni 2015 17:35

Tol Cipali Rawan Macet saat Arus Mudik, Ini Penyebab dan Solusinya

Translog Today
Pintu tol Cikopo (setkab.go.id)

JAKARTA - Meskipun jalan tol Cikopo-Palimanan (Cipali) sudah beroperasi secara resmi dan bisa dilintasi, pengemudi harus mewaspadai masalah keselamatan dan kemacetan saat arus mudik Lebaran.

Salah satu hambatan yakni kemungkinan penumpukan kendaraan saat arus puncak mudik di pintu tol Cikopo.
Penumpukan di pintu tol Cikopo perlu diantisipasi dengan cara penambahan petugas tol untuk transaksi secara manual sehingga pengemudi dapat membayar tiket sebelum sampai di loket guna mengurangi kemacetan.

"Perlu disiapkan langkah manual dengan menempatkan sejumlah orang untuk pembayaran tol hingga tidak terjadi penumpukan," kata Staf Ahli Menteri Perhubungan Bidang Multimoda Sugihardjo di sela-sela kunjungan
Menteri Perhubungan Ignasius Jonan ke Tol Cipali, Senin (29/6/2015).

Menurut dia, kondisi ruas tol Cipali secara geometrik dan kondisi perkerasan jalan relatif baik sehingga tanpa sadar pengemudi dapat mengendarai kendaraan lebih dari 120 km/jam.

"Karena itu pengemudi agar mematuhi batas kecepatan, tidak lebih dari 100 km/jam, apalagi pada ruas tertentu yang bisa lebih rendah karena kondisi menikung dan lain-lain," jelasnya.

Selain itu, ada titik lain yang harus menjadi perhatian khusus yakni di ruas tol Palimanan-Pejagan-BrebesTimur.

Untuk mengurangi kepadatan di pintu keluar Pejagan arah Pantura yang memotong rel KA (double track) dilakukan upaya pengendalian: yakni bus dan truk keluar lewat gerbang tol Palimanan, sedangkan bus arah Purwokerto keluar gerbang tol Pejagan, belok kanan ke arah Purwokerto.

Pembetonan jalan provinsi sepanjang 800-1.000 meter daerah Pejagan belum tuntas sehingga perlu percepatan supaya tidak menyebabkan kemacetan.

Untuk kendaraan kecil non bus dan truk dapat terus menuju Brebes Timur melalui ruas jalan tol yang dioperasikan secara fungsional dan belum dipungut bayaran dengan kecepatan 20-30 km/jam.

"Apabila terjadi kemacetan, disiapkan alternatif 5 jalan desa menuju Pantura dan Slawi," kata Sugihardjo.

Sumber: Kemenhub (hlz/hlz)


Komentar