Jumat, 15 Desember 2017 | 03:48 WIB

Kunjungi di social media :
Home / Regulasi / Karantina
Kamis, 13 Agustus 2015 20:30

2.010 Sapi Bakalan Australia Masuk Pelabuhan Tanjung Intan

Hery Lazuardi
(bumn.go.id)

CILACAP - Lonjakan harga daging sapi akibat kelangkaan komoditas itu pasca-Lebaran dinilai akibat berkurangnya kuota impor sapi secara nasional.

Kepala Kantor Karantina Pertanian Kelas I Pelabuhan Tanjung Intan Cilacap Hom Hom mengakui soal penurunan kuota tersebut, terbukti dari berkurangnya impor sapi bakalan dari Australia.

Sebagai gambaran, kuota impor sapi kuartal III tahun ini secara nasional hanya 50.000 ekor, jauh lebih rendah dibandingkan dengan kuartal II sebanyak 250.000 ekor dan kuartal I sekitar 100.000 ekor.

"Kuota itu merupakan kebijakan pemerintah pusat. Kami yang di Cilacap hanya sebagai pelaksana tugas karantina dan menerima kiriman sapi melalui Pelabuhan Tanjung Intan," katanya, Rabu (13/8/2015).

General Manager PT Pelindo III (Persero) Cabang Tanjung Intan Djumadi mengungkapkan arus kunjungan kapal bermuatan sapi asal Australia yang melalui Pelabuhan Tanjung Intan sempat meningkat menjelang Lebaran.

Produktivitas kapal pengangkut sapi bakalan Australia cukup tinggi. "Selama Mei dan Juni saja tercatat ada empat kapal sapi yang sandar dan dibongkar di Tanjung Intan, yaitu MV Devon Ekspress, MV Finola, MV Nine Eagle dan MV GL Lan Ciu yang mengangkut sapi asal Australia sejumlah 8.752 ekor," jelasnya.

Djumadi menjelaskan pasca-Lebaran selama Juli memang tidak ada aktivitas pengiriman sapi dari Australia. Meski begitu, mulai awal Agustus sudah ada 1 kapal sapi yang sandar di Tanjung Intan.

"Sebanyak 2.010 ekor sapi asal Australia telah dibongkar di Tanjung Intan pada Kamis (6/8/2015)," ungkapnya. Adapun jumlah sapi yang dibongkar di pelabuhan itu sejak Januari hingga awal Agustus tercatat 16.111 ekor.

Dari Pelabuhan Tanjung Intan, selanjutnya sapi-sapi tersebut akan melalui proses karantina selama 14 hari di Cilacap.

Di karantina, sapi mendapatkan sejumlah perlakuan yakni kegiatan pengamatan, pengasingan, pengambilan sampel darah, kemudian pemeriksaan di laboratorium. Setelah dinyatakan sehat oleh Dokter Hewan Karantina, sapi-sapi tersebut langsung dibawa ke kandang penggemukan di Malangbong, Jawa Barat. (hlz/hlz)


Komentar