Minggu, 21 Oktober 2018 | 19:50 WIB

Kunjungi di social media :
Home / Korporasi / Perbankan
Sabtu, 29 Agustus 2015 11:16

BI Perketat Pembelian Dolar AS Tanpa Underlying

Translog Today
(-)

JAKARTA - Bank Indonesia mengubah batas nilai maksimum pembelian valas melalui transaksi spot yang dilakukan tanpa keperluan tertentu (underlying), dari US$100.000 per bulan per nasabah/pihak asing menjadi US$25.000 atau ekuivalennya per bulan per nasabah.

"Dengan demikian, pembelian valas di atas US$25.000 diwajibkan memiliki underlying transaksi berupa seluruh kegiatan perdagangan dan investasi. Apabila nominal underlying transaksi tidak dalam kelipatan US$5.000, maka akan dilakukan pembulatan ke atas dalam kelipatan US$5.000," kata Direktur Eksekutif Departemen Komunikasi BI Tirta Segara dalam siaran pers, Jumat (28/8/2015).

Dia menjelaskan transaksi yang memiliki underlying, seperti untuk keperluan mengimpor barang, membayar uang sekolah dan biaya pengobatan di luar negeri, atau pembayaran utang luar negeri, tidak akan diberlakukan pembatasan.

Kebijakan tersebut dilakukan BI untuk menjaga stabilitas nilai tukar rupiah mengingat masih banyak terdapatnya permintaan valas yang tidak terkait langsung dengan kegiatan ekonomi riil (tanpa underlying transaksi).

"Hal ini dapat menyebabkan ketidakseimbangan permintaan dan penawaran di pasar valas, dan mengarah pada kegiatan spekulasi," ujarnya.

BI melakukan perubahan kedua atas Peraturan Bank Indonesia (PBI) tentang Transaksi Valuta Asing terhadap Rupiah antara Bank dengan Pihak Domestik dan Pihak Asing. "Perubahan itu antara lain mengatur penurunan nilai transaksi spot yang diwajibkan untuk memiliki underlying transaksi," ungkapnya.

Sejalan dengan pengaturan sebelumnya, cakupan pengaturan ambang batas (threshold) tersebut, jelas Tirta, selain mengatur transaksi nasabah kepada bank juga mengatur transaksi antara nasabah kepada Kegiatan Usaha Penukaran Valuta Asing (KUPVA) Bank dan KUPVA Bukan Bank.

"Dengan penyempurnaan ketentuan ini, BI berharap kondisi pasar valuta asing domestik akan lebih stabil dalam memenuhi kebutuhan riil masyarakat terhadap valuta asing untuk mendukung aktivitas ekonomi," ujarnya.
(hlz/hlz)


Komentar