Rabu, 20 November 2019 | 17:20 WIB

Visit our social media :
Home / Transportation / Shipping
Senin, 21 September 2015 22:09

Johnson Ingin 'INSA United', Prioritaskan Dialog dan Kekeluargaan

Hery Lazuardi
Johnson W. Sutjipto (kedua kanan) di depan kantor DPP INSA (Translogtoday)

JAKARTA - Johnson W. Sutjioto masih membuka ruang dialog kepada pihak yang menolak keputusan Tim Care Taker yang menetapkannya sebagai Ketua Umum Indonesian National Shipowners' Association (INSA) periode 2015-2019.

Namun, dia juga tidak menutup kemungkinan untuk menempuh jalur hukum apabila upaya persuasif dan kekeluargaan menemui jalan buntu, terutama terhadap aksi penguncian kantor DPP INSA oleh pihak tertentu.

"Semangat kita adalah INSA United. Kami akan melakukan upaya persuasif dan diskusi secara kekeluargaan, jalur hukum menjadi upaya terakhir sebab prosesnya akan cukup lama," katanya, Senin (21/9/2015).

Johnson menyampaikan hal itu dalam konferensi pers di halaman kantor INSA Jl. Tanah Abang III Jakarta Pusat. Dia bersama pengurus INSA tidak bisa masuk ke dalam kantor yang dikunci dan dijaga ketat oleh sejumlah orang tidak dikenal.

Dia mengatakan Menteri Perhubungan Ignasius Jonan selaku Pembina INSA sebenarnya sudah berupaya mempertemukannya dengan pihak Carmelita Hartoto sebagai calon ketua umum INSA dalam Rapat Umum Anggota (RUA) ke-16.

"Namun, pertemuan yang direncanakan pada Senin pekan lalu itu batal karena Ibunda dari Bu Carmelita dikabarkan sakit, jadi belum ada arahan dari Menhub hingga saat ini," ujarnya.

Johnson mengaku sudah beberapa kali berusaha menghubungi pihak Carmelita untuk membicarakan masalah organisasi tersebut, tetapi belum mendapatkan respons.

Pihaknya juga telah mengirimkan surat kepada Menhub soal susunan Dewan Penasihat dan Dewan Pengurus Harian (DPH) DPP INSA pada Jumat (18/9/2015). "Kami segera mengumumkan susunan lengkap DPP INSA, dan melakukan penyempurnaan jika diperlukan."

Terkait dengan rencana RUA lanjutan, Johnson menilai hal itu tidak dikenal dan diatur dalam Anggaran Dasar/Anggaran Rumah Tangga INSA.

Namun, apabila ada anggota yang mengusulkan RUA Luar Biasa, hal itu bisa saja dilakukan selama ada permintaan dari 50+1 anggota dan 75% yang hadir dalam RUA.

"RUA Luar Biasa itu esensinya untuk menurunkan ketua umum yang sudah ada, tetapi kalau RUA ulang dalam AD/ART manapun tidak dikenal," katanya.

Sesuai dengan keputusan Care Taker INSA pada 11 September 2015, Johnson ditetapkan sebagai ketua umum periode periode 2015-2019 dan ditugaskan membentuk kabinetnya dalam waktu paling lambat 1 bulan.

Dalam satu pekan saja sejak keputusan itu, Johnson sudah menetapkan DPH yakni Lolok Sudjatmiko sebagai Seketaris Umum, Siana A Surya sebagai Bendaraha Umum, serta lima wakil ketua umum yaitu Paulis Djohan, Tedy Yusiadi, Sugiman Layanto, Djoni Sutji dan Bambang Ediyanto. 

Adapun, Dewan Penasihat yang dipilih yakni Widihardja Tanudjaja sebagai Ketua, serta Mayjen Mar (Purn) Halim A Hermanto dan Antonius Nurimba sebagai Anggota.

"Kami berharap DPP INSA bisa segera bekerja seperti biasa karena pelayanan kepada anggota tidak bisa terhenti, kami akan lakukan konsolidasi organisasi. Kami juga akan mencari kantor sementara jika tidak dapat menggunakan kantor DPP INSA," ujarnya. (hlz/hlz)


Komentar