Minggu, 18 November 2018 | 00:04 WIB

Kunjungi di social media :
Home / Transportasi / Penerbangan
Senin, 28 September 2015 20:23

GMF AeroAsia Bangun Hangar MRO Terbesar di Dunia

Hery Lazuardi
(repro)

JAKARTA - Garuda Maintenance Facility (GMF) Aero Asia membangun fasilitas perawatan pesawat kategori narrow body berkapasitas 16 pesawat sekaligus atau terbesar di dunia. Fasilitas yang dinamakan Hangar 4 itu untuk mendukung target GMF menjadi pemain global di industri MRO (maintenance, repair and overhaul).

Pembangunan fasilitas seluas 67.022 meter2 tersebut diresmikan oleh Menteri Negara BUMN Rini M. Soemarno, Senin (28/9/2015), di kawasan Bandara Soekarno-Hatta Cengkareng.

"Pembangunan Hangar 4 akan memperkuat pilar bisnis utama Garuda Indonesia Group, sekaligus meningkatkan revenue dan menjadi bekal yang kuat bagi GMF untuk terus melanjutkan pertumbuhan positif yang telah dicapai sejak semester I/2015, serta menjadikan GMF sebagai pemain global dalam industri MRO," kata Rini.

Dia juga menyampaikan penghargaan atas kerja sama yang baik antara Garuda Indonesia, Wijaya Karya sebagai kontraktor dan Bank Negara Indonesia (BNI) sebagai pihak pembiayaan pembangunan melalui sinergi BUMN sehingga berhasil mewujudkan Hangar 4 sebagai karya besar bersama.

"Hal ini juga menjadi bukti pentingnya sinergi di antara BUMN dalam meningkatkan pertumbuhan ekonomi nasional dan memperkuat daya saing di tengah situasi persaingan bisnis global," katanya dalam siaran pers Garuda Indonesia.

Dia mengharapkan Hangar 4 memperkuat posisi Indonesia sebagai salah satu pemain utama di industri MRO, mengingat dalam 20 tahun ke depan, pusat perawatan armada pesawat dunia akan bergeser ke Asia Pasifik seiring dengan tingginya lalu lintas udara di kawasan itu.

Di tengah pesatnya pertumbuhan dan perkembangan industri penerbangan nasional, tuturnya, Hangar 4 membuka peluang usaha dan investasi yang prospektif sehingga dapat mengurangi ketergantungan pemeliharaan pesawat di luar negeri.

Dengan didukung oleh ribuan tenaga terampil yang dimiliki GMF, kehadiran Hangar 4 diharapkan bisa memberikan dukungan yang optimal bagi maskapai domestik dan internasional dalam memenuhi standar keselamatan penerbangan global dan kemudahan memperoleh pasokan suku cadang.

Direktur Utama Garuda Indonesia M. Arif Wibowo mengatakan penambahan kapasitas Hangar 4 tidak terlepas dari dukungan GMF AeroAsia terhadap program pengembangan berkelanjutan Garuda Indonesia.

"Pada 2020, Garuda Indonesia [dan Citilink] akan mengoperasikan pesawat narrow body, regional jet, dan pesawat turboprop sebanyak 241 pesawat. Di samping itu, pengembangan fasilitas MRO ini tidak terlepas dari inisiatif GMF AeroAsia dalam mengambil pasar perawatan pesawat narrow body di Asia Pasifik-yang diprediksi menjadi pemimpin pasar dalam bisnis perawatan pesawat," kata Arif.

Konsep desain Hangar 4 adalah tipe butterfly, terdiri dari dua wing dan area perkantoran serta workshop di bagian tengah. "Konsep ini berangkat dari keinginan untuk memiliki hangar berstandar internasional dengan desain kreatif. Dari sisi operasional juga lebih efektif karena pergerakan pesawat lebih fleksibel," kata Direktur Utama GMF Richard Budihadianto.

Desain hangar 4 cukup unik dan berbeda dari ketiga hangar lain yang dimiliki GMF diikuti pula dengan konsep ramah lingkungan.

Konsep bangunan ramah lingkungan Hangar 4, kata Richard, merupakan bentuk kepedulian GMF terhadap bumi. Konsep ini diwujudkan dalam konstruksi khusus pada bagian-bagian hangar, seperti skylight pada atap dan kaca panasap pada sisi samping hangar untuk memaksimalkan pencahayaan.

Di lantai 2 (kantor) mengaplikasikan curtain wall dengan tipe kaca laminated untuk memaksimalkan sirkulasi cahaya dengan kesan modern dan transparan, serta kisi-kisi alumunium untuk meminimalkan turbulensi udara.

Selain itu, bentuk yang tumpul pada sudut atap untuk membantu mengalirkan udara agar tidak terjadi benturan keras pada fasad, serta pengguna Metal Halide (MH) lamps pada hangar untuk menghasilkan warna putih dengan kualitas baik dan konsumsi listrik yang rendah.

"Kami berharap ke depannya Hangar 4 ini mendapat Sertifikasi Green Building oleh Green Building Council Indonesia, dan diikuti oleh sertifikasi internasional," ujar Richard.

Hangar 4 yang seluruh pembangunannya dikerjakan oleh tenaga kerja lokal ini merupakan hangar pesawat narrow body terbesar di dunia setelah predikat sebelumnya dipegang oleh Turkish Technic di negara Turki.

Luas area hangar 4 adalah 67.022 m2 dengan 64000m2 area produksi dan 17.600m2 area perkantoran. Kapasitas Hangar 4 dapat merawat 16 pesawat narrow body secara bersamaan dengan satu bay untuk fasilitas painting pesawat.

Hangar 4 dapat menampung 16 pesawat narrow body secara paralel yang meliputi pekerjaan perawatan ringan maupun berat, modifikasi winglet, perbaikan struktur, modifikasi interior pesawat, pengecatan dan perawatan lainnya.

Untuk memaksimalkan kesiapan operasionalnya, utilisasi Hangar 4 akan dilaksanakan secara bertahap, dan akan mencapai kapasitas penuh (16 pesawat) pada 2018.

Pada 2016, diperkirakan 209 pekerjaan perawatan pesawat akan dilaksanakan di hangar ini, dan akan bertambah menjadi 250 pekerjaan pada 2017, kemudian 313 pekerjaan pada 2018.

Tenaga kerja yang terlibat dalam pekerjaan perawatan pesawat di Hangar 4 diproyeksikan mencapai 438 orang dalam 3 tahun ke depan. Pada 2016 diproyeksikan 121 orang, pada 2017 sebanyak 179 orang, dan mencapai 238 orang pada 2018.

Dengan adanya Hangar 4, pekerjaan perawatan narrow body di GMF yang saat ini 167 akan bertambah menjadi 313 pekerjaan atau naik 87% pada 2018.

Adapun pendapatan yang diproyeksikan dari Hangar 4 ini mencapai US$86 juta atau naik 150% dari pencapaian saat ini. "Pendapatan dari hangar narrow body saat ini sebesar US$57 juta, dan dengan hangar baru ini pendapatan GMF akan naik menjadi US$143 juta pada 2018," kata Richard. (hlz/hlz)


Komentar