Selasa, 19 November 2019 | 01:40 WIB

Visit our social media :
Home / Transportation / Dock & Repair
Rabu, 30 September 2015 14:22

Mau Docking Kapal? Daya Radar Siapkan Graving Dock

Translog Today
(repro)

LAMPUNG - PT Daya Radar Utama, salah satu perusahaan galangan kapal terbesar di Indonesia telah mengoperasikan fasilitas reparasi kapal berupa graving dock (dok terapung) yang mampu menampung kapal hingga 40.000 dead weight tonnage (DWT).

Fasilitas reparasi kapal yang dipusatkan di Provinsi Lampung tersebut menjadi salah satu yang terbesar di luar Batam.

"Fasilitas ini difokuskan untuk kegiatan reparasi kapal karena kebutuhan nasional sangat besar," kata Managing Director PT Daya Radar Utama Agus Gunawan.

Fasilitas graving dock PT Daya Radar Utama memiliki panjang sejauh 205 meter dan lebar 36 meter. Panjang KD mencapai 400 meter. Dengan adanya fasilitas reparasi tersebut, operator pelayaran semakin dipermudah dalam memilih fasilitas reparasi.

Tidak diketahui nilai investasi untuk membangun fasilitas graving dock tersebut. Akan tetapi, Kementerian Perindustrian pada 2011 menginformasikan bahwa tiga perusahaan nasional, masing-masing PT Daya Radar Utama, Group Arpeni dan Group Dock Kodja Bahari berinvestasi total Rp2 triliun untuk membangun fasilitas graving dock.

Graving dock merupakan fasilitas pengedokan kapal yang memiliki bentuk seperti kolam yang terletak pada tepi pantai dan memiliki beberapa bagian penting seperti pintu penutup yang berhubungan dengan pantai, pompa pengering, mesin gulung, tangga, crane dan sebagainya.

Sampai sekarang, fasilitas graving dock untuk kegiatan perbaikan kapal di Indonesia masih sangat terbatas, bahkan hingga kini, fasilitas galangan untuk kegiatan reparasi kapal niaga nasional cenderung defisit hingga 1 juta DWT per tahun dari kebutuhan.

Berdasarkan data Kementerian Perhubungan, populasi kapal niaga nasional telah mencapai lebih dari 14.000 unit, meningkat lebih dari 120 persen sepanjang 10 tahun terakhir sejak Pemerintah memperlakukan kebijakan asas cabotage pada 2005 bagi perairan Indonesia sebagaimana lazimnya dunia internasional. (hlz/hlz)


Komentar