Jumat, 24 Mei 2019 | 22:41 WIB

Kunjungi di social media :
Home / Regulasi / Transportasi
Kamis, 29 Oktober 2015 09:14

Penurunan Target Dividen BUMN 2016 Dipertanyakan

Hery Lazuardi

JAKARTA - Anggota Badan Anggaran DPR RI Bambang Haryo mempertanyakan target dividen badan usaha milik negara yang ditetapkan Rp34,16 triliun dalam RAPBN 2016, lebih rendah dibandingkan dengan target 2015 sebesar Rp36,95 triliun.

Bahkan, lanjut Bambang, pemerintah sempat menyampaikan target penerimaan atas laba BUMN (dividen) hanya Rp31,16 triliun dalam RAPBN kepada DPR, sebelum disepakati menjadi Rp34,16 triliun.

"Angka itu jauh lebih rendah dari ekspektasi. Padahal hingga Agustus 2015 saja, ketika PMN [penanaman modal negara] belum cair, realisasi dividen BUMN sudah mencapai Rp32,13 triliun. Mengapa pemerintah mematok target lebih rendah," ungkap anggota Komisi VI DPR RI dari Fraksi Gerindra, Rabu (28/10/2015).

Menurut Bambang, target dividen BUMN 2016 seharusnya jauh lebih tinggi dari pencapaian tahun ini sebab PMN kemungkinan besar sudah digelontorkan ke sejumlah BUMN akhir tahun ini.

"Dividen semestinya meningkat karena kinerja BUMN menjadi lebih baik setelah mendapatkan PMN yang jumlahnya cukup besar, sekitar Rp39 triliun, bukannya malah diturunkan. Saya mempertanyakan penurunan itu, apa alasannya," ujarnya.

Selain itu, lanjut Bambang, kondisi perekonomian diperkirakan lebih baik pada tahun depan, ditambah dengan adanya kebijakan revaluasi aset sehingga laba BUMN diproyeksikan meningkat.

Dia menegaskan dividen BUMN diperlukan untuk dikembalikan ke negara guna mensejahterakan rakyat, antara lain membangun infrastruktur dasar yang masih minim di daerah. "Pemerintah harus bijak mengelola BUMN, jangan sampai justru menyusahkan rakyat," kata Bambang.

Pemerintah menyesuaikan target dividen 2016 dari BUMN sektor perminyakan, pertambangan, dan perkebunan sesuai dengan kondisi ekonomi makro terkini. Selain itu, menjaga CAR (capital adequacy ratio) BUMN perbankan di atas 15%.
(hlz/hlz)


Komentar