Senin, 09 Desember 2019 | 04:26 WIB

Visit our social media :
Home / Logistic / Industry
Selasa, 10 November 2015 22:55

JIIPE Dikembangkan Menjadi Pusat Logistik Berikat

Hery Lazuardi
Kepala BKPM Franky Sibarani (ke-2 kanan) melihat maket JIIPE (Pelindo III)

GRESIK -

Pemerintah mendorong megaproyek Java Integrated Industrial and Port Estate (JIIPE), kawasan industri terpadu yang terintegrasi dengan fasilitas pelabuhan di Manyar, Gresik, Jawa Timur, menjadi pusat logistik berikat.

Kepala Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM) Franky Sibarani mengatakan pemerintah mendukung pengembangan kawasan industri, termasuk JIIPE, sebagai solusi logistik nasional.

"Dengan pengembangan kawasan industri menjadi pusat logistik berikat sebagai solusi logistik, daya saing Indonesia sebagai tempat berinvestasi akan semakin kuat," ujarnya di sela-sela kunjungannya ke JIIPE, Selasa (10/11/2015).

Franky mengakui pengembangan kawasan industri sangat mendesak di tengah ketatnya persaingan global untuk menarik investasi. "Beberapa investor yang datang ke BKPM sudah mulai membandingkan kawasan industri di Indonesia dengan negara-negara tetangga," ujarnya.

Kawasan pusat logistik berikat perlu menyiapkan berbagai infrastruktur pendukung, di antaranya pembangunan pelabuhan laut dalam, pembangkit listrik, dan jalur kereta api.

Untuk JIIPE, PT Pelabuhan Indonesia III (Persero) bekerja sama dengan PT AKR Corporindo menggenjot pembangunan infrastruktur di megaproyek tersebut.

Direktur Utama Pelindo III Djarwo Surjanto mengungkapkan hingga kini pihaknya sudah mengucurkan komitmen investasi hingga Rp5,5 triliun.

"Berdasarkan perhitungan pada 2014, investasi infrastruktur membutuhkan Rp35 triliun yang akan dilakukan secara bertahap sesuai dengan pertumbuhan penggunaan kawasan industri di sana," ungkapnya dalam siaran pers Pelindo III.

Direktur Utama PT Berkah Kawasan Manyar Sejahtera, yang mengelola kawasan industri, Bambang Soetiono, memaparkan investasi tersebut digunakan untuk membangun berbagai fasilitas yang mendukung JIIPE agar efektif menurunkan biaya logistik.

"Selain memiliki fitur utama sebagai kawasan industri yang terkoneksi langsung dengan pelabuhan laut dalam dengan kedalaman mencapai -16 meter LWS, JIIPE memiliki fasilitas lengkap, seperti sumber energi berupa listrik dan gas ramah lingkungan, pengolahan limbah, serta pasokan air dari penampungan air hujan, pengolahan, dan sumber alam. Untuk memastikan bebas banjir selama 100 tahun, kawasan ini dikelilingi tanggul setinggi 6 meter dan selebar 30 meter," jelas Bambang.

Menurut Djarwo, pihaknya juga menyiapkan infrastruktur bekerja sama dengan berbagai pihak, di antaranya pembangunan simpang susun menuju akses jalan tol dan akses rel kereta api ke Stasiun Duduk Sampean yang berada tidak jauh dari lokasi JIIPE.

Untuk akses laut, Pelindo III belum lama ini menyelesaikan revitalisasi dengan mengeruk Alur Pelayaran Barat Surabaya menjadi sedalam -13 meter LWS dan selebar 150 meter, sehingga kapal besar dapat bersandar dan arus lalu lintas semakin lancar.

"Dukungan pemerintah pusat sangat diperlukan untuk mengintegrasikan aspek jaringan [transportasi] agar memastikan JIIPE menjadi pusat logistik berikat yang sangat efisien, sehingga manfaatnya dapat dirasakan oleh masyarakat karena daya saing Indonesia meningkat," tegasnya.

Franky menjelaskan rencana kedatangan Presiden Joko Widodo ke JIIPE, Rabu (11/11/2015), untuk meluncurkan program penciptaan lapangan kerja melalui sinergi investasi dengan pondok pesantren di sejumlah kawasan industri di Indonesia.

"JIIPE mengalokasikan lahan untuk lokasi pembangunan Balai Latihan Kerja [BLK]. Nantinya BLK ini didukung oleh Pondok Pesantren Qomarudin dari Gresik untuk mendidik santri menjadi tenaga kerja terampil," kata Bambang.

JIIPE memiliki kawasan industri seluas 2.933 hektare di Gresik, kini dalam proses konstruksi dan telah menyerap sekitar 1.500 tenaga kerja langsung, 90% berasal dari masyarakat di sekitarnya, seperti Kecamatan Bungah dan Kecamatan Manyar.

Hingga kini, lima perusahaan sudah masuk ke kawasan industri JIIPE, antara lain perusahaan smelter, petrokimia, dan pengolahan garam untuk industri.

Kelima perusahaan itu sedang melakukan konstruksi dan menyerap sekitar 5.000 tenaga kerja langsung. Sementara itu, seluruh kawasan industri ini ditargetkan menyerap sekitar 60.000 tenaga kerja langsung. (hlz/hlz)


Komentar