Senin, 18 November 2019 | 11:44 WIB

Visit our social media :
Home / Transportation / Shipping
Minggu, 13 Desember 2015 15:53

INSA: Industri Pelayaran Nasional Terpuruk Selama 2015

Hery Lazuardi
(Translogtoday)

JAKARTA - Selama 2015, industri pelayaran nasional terpuruk di tengah melambatnya laju pertumbuhan ekonomi yang tercatat 4,73% pada kwartal III dan apresiasi tajam dolar AS terhadap rupiah hingga menyentuh level psikologis Rp14.000. Kondisi ini diperparah dengan penurunan harga minyak mentah dunia ke level US$40,73 per barel per November 2015.

Sekretaris Jenderal Indonesian National Shipowners' Association (INSA) Lolok Sudjatmiko mengungkapkan setidaknya 15%-20% dari sekitar 14.000 unit kapal berbendera Merah Putih saat ini parkir tidak bekerja di sejumlah tempat karena muatan yang tidak tersedia.

"Kapal-kapal tersebut terutama jenis tug and barge yang populasinya saat ini lebih dari 3.000 set kapal. Kondisi ini terjadi karena perdagangan komoditas tambang sedang lesu, terutama batu bara," ungkapnya, Minggu (13/12/2015).

Menurut dia, daya serap PT PLN sebagai pasar utama angkutan batu bara dalam negeri stagnan selama 2015 karena PLTU dari proyek 10.000 MW tidak bertambah, sementara proyek 35.000 MW yang digagas pemerintah masih jalan di tempat.  "Ekspor batu bara juga bertambah lesu karena permintaan ekspor, terutama China menurun," ujar Lolok.

Adapun sektor offshore juga lesu akibat tidak adanya peningkatan produksi dari sumur minyak dan gas baru, serta minimnya kegiatan eksplorasi dan eksploitasi migas yang baru akibat harga minyak yang rendah. Produksi migas yang ada sekarang adalah mengoptimal sumur-sumur tua.

Indikator melemahnya pelayaran offshore dapat dilihat dari produksi minyak pada September 2015 sebesar 800.500 barel, naik tipis dibandingkan 2014 sebesar 794.000 barel, tetapi masih lebih rendah dibandingkan 2013 sebanyak 831.118. Artinya, selama 2013 hingga akhir 2015 belum ada peningkatan kinerja offshore support vessel.

Di sisi lain, ungkap Lolok, Kegiatan perdagangan antarpulau dengan menggunakan kapal general cargo dan kontainer juga belum menggembirakan meskipun arus barang sedikit membaik yang ditandai dengan kenaikan arus barang pada 5 pelabuhan utama di Indonesia.

Selama Januari-Oktober 2015, menurut data BPS, arus barang di 5 pelabuhan utama (Tangjung Priok, Tanjung Perak, Panjang, Makassar, Balikpapan dan lainnya) naik 2,5% menjadi 193 juta ton dibandingkan dengan periode yang sama tahun lalu 189 juta ton.
(hlz/hlz)


Komentar