Senin, 18 November 2019 | 22:07 WIB

Visit our social media :
Home / Regulation / General News
Jumat, 05 Februari 2016 14:42

BPS: Ekonomi Nasional 2015 Hanya Tumbuh 4,79%

Hery Lazuardi
(repro)

JAKARTA - Ekonomi Indonesia pada 2015 tumbuh 4,79%, melambat dibandingkan dengan pencapaian tahun sebelumnya 5,02%. Meski demikian, ekonomi tumbuh paling tinggi pada kuartal keempat yakni 5,04% dibandingkan dengan tiga kuartal sebelumnya.

Pada kuartal pertama 2015, pertumbuhan ekonomi tercatat 4,73%, kuartal kedua 4,66%, dan kuartal ketiga 4,74%.

Menurut Kepala Badan Pusat Statistik (BPS) Suryamin, pertumbuhan ekonomi pada 2015 terjadi di seluruh lapangan usaha, kecuali pertambangan dan penggalian yang mengalami kontraksi 5,08%.

"Informasi dan komunikasi merupakan lapangan usaha yang mengalami pertumbuhan tertinggi sebesar 10,06%, diikuti jasa keuangan dan asuransi 8,53%, dan jasa lainnya 8,08%," kata Suryamin, Jumat (5/2/2016).

Struktur perekonomian Indonesia menurut lapangan usaha pada 2015, jelas Suryamin, didominasi oleh tiga lapangan usaha, yaitu industri pengolahan (20,84%); pertanian, kehutanan, dan perikanan (13,52%); dan perdagangan besar-eceran, reparasi mobil-sepeda motor (13,29%).

Secara spasial, struktur ekonomi pada 2015 masih terkonsentrasi di Pulau Jawa dan Sumatera. Ekonomi di Pulau Jawa memberikan kontribusi terbesar terhadap produk domestik bruto, yakni 58,29%, diikuti oleh Pulau Sumatera 22,21% dan Pulau Kalimantan 8,15%.

Suryamin menjelaskan pertumbuhan ekonomi yang tinggi pada kuartal keempat 2015 terjadi pada seluruh lapangan usaha, kecuali pertambangan dan penggalian yang terkontraksi 7,91%.

Jasa keuangan dan asuransi merupakan lapangan usaha yang mencatat pertumbuhan tertinggi yakni 12,52%, diikuti informasi dan komunikasi 9,74%, dan konstruksi 8,24%.

"Pada kuartal keempat 2015, ekonomi mengalami kontraksi 1,83% dibandingkan dengan kuartal sebelumnya. Dari sisi produksi, hal ini disebabkan oleh efek musiman pada lapangan usaha pertanian, kehutanan, dan perikanan yang mengalami kontraksi 23,34%. Dari sisi pengeluaran disebabkan oleh penurunan ekspor neto," jelas Suryamin. (hlz/hlz)


Komentar