Senin, 18 November 2019 | 20:48 WIB

Visit our social media :
Home / Transportation / Ports
Selasa, 09 Februari 2016 14:48

Arus Peti Kemas di Pelindo III Selama 2015 Naik 1%

Translog Today
(Pelindo III)

SURABAYA - Arus peti kemas di lingkungan PT Pelabuhan Indonesia III (Persero) sepanjang 2015 tercatat 4.360.669 TEUs, naik tipis 1% dibandingkan dengan tahun sebelumnya 4.337.555 TEUs.

"Perlambatan ekonomi dunia tak berpengaruh secara signifikan terhadap arus peti kemas di beberapa pelabuhan yang dikelola Pelindo III. Peningkatan arus peti kemas meski hanya 1% menunjukkan angkutan barang melalui transportasi laut menggunakan peti kemas masih menjadi primadona", kata Kepala Humas Pelindo III Edi Priyanto dalam siaran pers, Selasa (9/2/2016).

Dari total arus peti kemas yang melalui pelabuhan yang dikelola Pelindo III, peti kemas domestik masih mendominasi dengan prosentase mencapai 57% atau 2.504.288 TEUs, sedangkan porsi peti kemas internasional 43% dengan jumlah peti kemas 1.856.381 TEUs.

Pelindo III mengoperasikan 11 pelabuhan di tujuh provinsi untuk melayani kegiatan bongkar muat peti kemas. Pelabuhan itu antara lain Tanjung Perak Surabaya, Tanjung Emas Semarang, Banjarmasin,Tenau Kupang, Benoa, Sampit, Kotabaru, Lembar, Kumai, Maumere dan Bima.

Arus peti kemas sepanjang 2015 masih didominasi Pelabuhan Tanjung Perak yakni sebanyak 3.120.683 TEUs atau naik 0,5% dibandingkan dengan realisasi tahun sebelumnya 3.105.827 TEUs.

Jumlah arus peti kemas di Tanjung Perak terdiri dari 1.350.811 TEUs di Terminal Peti kemas Surabaya yang dioperasikan oleh PT TPS, 1.080.648 TEUs di Terminal Berlian yang dioperasikan PT BJTI, 120.688 TEUs di Terminal Teluk Lamong yang dioperasikan oleh PT TTL dan sisanya 568.536 TEUs di Terminal Konvensional (Jamrud, Mirah dan Nilam Timur) Tanjung Perak.

Sementara itu, Pelabuhan Tanjung Emas melayani arus peti kemas sebanyak 608.984 TEUs selama 2015, dengan rincian 608.199 TEUs di Terminal Peti Kemas Semarang (TPKS) dan 785 TEUs di Pelabuhan Konvensional Tanjung Emas. Capaian ini naik 5,6% dibandingkan 2014 sebanyak 576.866 TEUs.

Namun peningkatan arus peti kemas di Pulau Jawa tersebut tidak diikuti oleh pelabuhan lain di Kalimantan. Arus peti kemas di pulau yang kaya hasil tambang itu menurun sebagai dampak pelarangan ekspor minerba. Anjloknya harga komoditas batu bara dan sawit juga turut memberikan andil terhadap penurunan tersebut.

Sebagai contoh, arus peti kemas di Pelabuhan Banjarmasin Kalimantan Selatan turun 6% menjadi 388.419 TEUs pada 2015 dibandingkan dengan tahun sebekumnya 404.070 TEUs.

Demikian juga di Pelabuhan Sampit Kalimantan Tengah, arus peti kemas tercatat 40.640 TEUs atau merosot 7% dari tahun sebelumnya 43.690 TEUs. Pelabuhan Kotabaru Kalimantan Selatan tercatat 8.427 TEUs, turun dari tahun sebelumnya 9.892 TEUs.

Meski demikian, penurunan arus peti kemas tidak terjadi di Pelabuhan Kumai Kalimantan Tengah, yang pada 2015 tercatat 24.225 TEUs atau meningkat dari tahun sebelumnya 22.126 TEUs.

Peningkatan arus peti kemas terjadi di Nusa Tenggara, tercatat pada 2015 di Pelabuhan Tenau Kupang NTT sebanyak 99.064 TEUs meningkat dibandingkan dengan tahun sebelumnya 88.895 TEUs.

Peningkatan juga terjadi di Pelabuhan Maumere NTT dan Pelabuhan Bima NTB, masing-masing 18.901 TEUs meningkat dari tahun sebelumnya 18.482 TEUs untuk Pelabuhan Maumere dan Pelabuhan Bima tercatat 7.952 TEUs naik tipis dari tahun sebelumnya 7.652 TEUs.

Adapun pelabuhan yang mengalami penurunan arus peti kemas terjadi di Pelabuhan Lembar NTB yakni tercatat 21.966 TEUs atau menurun dari tahun sebelumnya 27.080 TEUs. Arus peti kemas yang mulai naik di sejumlah pelabuhan di wilayah Nusa Tenggara menunjukkan geliat perekonomian di Kawasan Timur Indonesia seiring dengan tren kontainerisasi.

Edi mengatakan pengguna jasa pelabuhan semakin sadar bahwa proses bongkar muat barang dengan menggunakan peti kemas lebih cepat dibandingkan dengan non-petikemas, kegiatan bongkar muat tidak terlalu lama sehingga secara otomatis menekan biaya operasi kapal di pelabuhan.

"Keamanan barang di dalam peti kemas lebih terjamin dari kerusakan ataupun pencurian karena memilki pintu yang dapat dibuka dan dikunci, dapat digunakan sebagai gudang untuk menyimpan barang. Hal-hal tersebut menjadi pertimbangan pengiriman barang dengan menggunakan peti kemas," jelas Edi. (hlz/hlz)


Komentar