Senin, 18 November 2019 | 20:53 WIB

Visit our social media :
Home / Logistic / Industry
Kamis, 25 Februari 2016 21:32

FTZ Butuh Fasilitas Kelas Dunia dan Dukungan Industri

Hery Lazuardi

JAKARTA - Pemerintah harus melengkapi Kawasan Perdagangan Bebas (Free Trade Zone/FTZ) dengan berbagai infrastruktur dan fasilitas kelas dunia agar menarik bagi investor dan wisatawan mancanegara.

"FTZ harus punya pelabuhan laut dan bandar udara internasional besar untuk menunjang perdagangan produk dalam negeri ataupun produk luar negeri yang dibuat di dalam negeri," kata Bambang Haryo Soekartono, anggota Komisi VI DPR RI dan Panja FTZ DPR RI, Rabu (24/2/2016).

Menurut dia, FTZ harus menyediakan fasilitas yang aman dan nyaman bagi tamu asing, akses transportasi dan telekomunikasi mudah, biaya hidup harus murah, layanan perbankan dan asuransi, dan memiliki keunggulan pariwisata.

Selain itu, sumber daya manusia dari dalam negeri perlu disiapkan sebab FTZ membutuhkan banyak tenaga ahli dari berbagai bidang, termasuk marketing dan penjualan serta hukum Internasional.

Dia mengharapkan FTZ memprioritaskan perdagangan produk buatan dalam negeri, baik merek lokal maupun asing. "Produk dalam negeri yang diperdagangkan di FTZ harus memiliki karakter, dan kalaupun sama harus bisa bersaing dengan produk luar negeri," ujar Bambang.

Lokasi FTZ juga harus dekat dengan wilayah industri yang mengolah produk hilir tambang, agro, dan sebagainya. Dengan demikian, tutur Bambang, biaya logistik bisa ditekan sehingga harga produk menjadi lebih murah.

Dia mengatakan FTZ perlu diselaraskan dengan pengembangan Kawasan Ekonomi Khusus (KEK) yang menampung industri dengan dukungan fasilitas dan insentif sehingga harga barang di FTZ menjadi murah.

Syarat penting lainnya, menurut Bambang, adalah FTZ harus dilewati oleh jalur transportasi internasional, baik pelayaran, penerbangan, maupun angkutan darat. "Indonesia sangat cocok menjadi zona perdagangan internasional karena berada di perlintasan transportasi dunia," ujarnya.

Dia menilai lokasi FTZ Sabang, Batam, Bintan dan Karimun sudah tepat karena berada di jalur internasional, tetapi Indonesia juga perlu FTZ di tengah, misalnya di Surabaya atau Bali.

Perlunya FTZ di kawasan tengah agar bisa dijangkau masyarakat dari kawasan timur Indonesia sebab FTZ tidak hanya sebagai wilayah perdagangan luar negeri, tetapi juga untuk dalam negeri. (hlz/hlz)


Komentar