Senin, 18 November 2019 | 20:34 WIB

Visit our social media :
Home / Regulation / General News
Kamis, 17 Maret 2016 09:31

Kota Baubau Dinilai Potensial Dijadikan KEK

Hery Lazuardi
(repro)

JAKARTA - Kota Baubau, Sulawesi Tenggara, dinilai potensial dijadikan sebagai kawasan ekonomi khusus (KEK) dan basis pertahanan di kawasan tengah Indonesia karena lokasinya sangat strategis dilalui poros maritim domestik dan internasional.

"Secara geografis Baubau berada di posisi yang strategis. Kota ini berada di tengah-tengah dari Pulau Jawa ke timur Indonesia sehingga sangat cocok dikembangkan menjadi kawasan ekonomi khusus atau kawasan industri tertentu," kata anggota DPR RI Komisi VI Bambang Haryono Soekartono, Rabu (16/3/2016).

Bambang mengungkapkan hal itu setelah berkunjung ke Kota Baubau pekan lalu. Dia berdialog langsung dengan pengelola Pelabuhan Baubau, Kepala Terminal Bahan Bakar Minyak (TBBM) Sulaa, Manager Area PLN Baubau, dan perwakilan PT Pelindo IV Wilayah Sulawesi.

Menurut dia, pemerintah perlu segera mempertimbangkan Baubau untuk dijadikan KEK dan basis pertahanan di kawasan tengah Indonesia. Selanjutnya, kota tersebut dilengkapi dengan infrastruktur yang memadai, seperti pelabuhan dan bandar udara internasional.

"KEK Baubau akan cepat berkembang sebab wilayah ini juga didukung potensi wisata yang sangat besar sehingga menarik kunjungan turis jika infrastrukturnya bagus," ujarnya. 

Bambang mengatakan PT Pelabuhan Indonesia IV (Persero) harus mengembangkan Pelabuhan Baubau guna mengantisipasi lonjakan arus barang dan penumpang. Apalagi, pelabuhan tersebut bisa disinggahi kapal berukuran besar karena merupakan pelabuhan laut dalam (alami).

Dia tidak setuju jika Wakatobi yang ditetapkan sebagai pelabuhan tol laut. Selain lokasinya kurang strategis untuk pelayaran komersial, keberadaan pelabuhan besar di wilayah itu akan merusak keindahan laut Wakatobi.

Wakatobi sebaiknya hanya untuk pelabuhan antara atau penyangga dari Wakatobi-Kendari dan Wakatobi-Baubau. "Lagi pula posisi pelabuhan Wakatobi berada di laut lepas, tidak cocok untuk program tol laut. Kalau mau bangun tol laut cocoknya di Kota Baubau karena posisinya masuk dalam selat dan bersambung dengan sungai," ujarnya.

Untuk mendukung Baubau menjadi kota Industri, dibutuhkan kecukupan energi listrik, yang menurut Bambang minimal 200 MW. Saat ini, Baubau baru dipasok 40 MW sehingga dibutuhkan tambahan listrik 2x25 MW dan 2x15 MW.

Begitu juga dengan Pelabuhan Baubau, Bambang menilai kapasitas bongkar muatnya sudah over load. Dia setuju jika pelabuhan petikemas dikembangkan ke timur atau ke arah Warumsio.

Dia meminta Pelindo IV mendesain persiapan Baubau menjadi kota industri sehingga nanti kota ini benar-benar siap dari sisi kepalabuhanan.
(hlz/hlz)


Komentar