Kamis, 14 November 2019 | 02:37 WIB

Visit our social media :
Home / Transportation / Dock & Repair
Sabtu, 26 Maret 2016 07:34

Daya Radar Utama Siap Dukung Program Poros Maritim

Hery Lazuardi
Galangan kapal DRU (DRU)

JAKARTA -

Industri galangan kapal nasional terus berpacu meningkatkan investasi dan pembangunan fasilitas guna mendukung program pembangunan nasional di bidang kemaritiman, khususnya dalam rangka mewujudkan Indonesia sebagai Poros Maritim Dunia.

Salah satunya adalah perusahaan galangan kapal nasional PT Daya Radar Utama (DRU). Perseroan yang berbasis di Jakarta tersebut berkomitmen meningkatkan upaya pemberian pelayanan terbaik di bidang pembangunan kapal baru maupun reparasi sebagai bentuk dukungan terhadap program pemerintah di bidang kemaritiman.

Sejauh ini, perseroan telah memantapkan dukungannya terhadap program Poros Maritim sebagai sebuah tantangan. Untuk menjawabnya, DRU telah menyiapkan diri sebaik mungkin mengingat program ini diyakini membutuhkan infrastruktur logistik dan transportasi maritim yang sangat besar.

Sejumlah persiapan yang dilakukan DRU adalah melakukan investasi penambahan fasilitas berupa peningkatan kapasitas pembangunan kapal baru hingga mencapai 30.000 dead weight tonnage (DWT) sehingga menempatkan perseroan sebagai salah satu yang terbesar di Indonesia.

Perseroan juga menambah fasilitas pemeliharaan kapal berupa graving dock yang dipusatkan di Lampung. Fasilitas ini mampu menampung kapal jenis handymax berkapasitas 40.000 DWT. Fasilitas graving dock ini direncanakan dioperasikan secara penuh pada tahun ini juga.

Amir Gunawan, Direktur Utama DRU, mengatakan dengan penambahan fasilitas tersebut, jenis dan tipe kapal yang dibangun oleh perseroan semakin meningkat.

"Selain memproduksi kapal-kapal untuk kegiatan niaga, perseroan memproduksi kapal untuk memenuhi kebutuhan Alutsista (Alat Utama Sistem Pertahanan) TNI Angkatan Laut," katanya.

Tidak hanya berdampak terhadap peningkatan kemampuan peseroan dalam membangun berbagai jenis maupun ukuran kapal, penambahan kedua fasilitas galangan itu juga memberikan dampak positif terhadap kemampuan galangan secara nasional.

Kapasitas terpasang galangan kapal nasional bagi kegiatan pembangunan kapal baru menjadi meningkat, demikian juga dengan kapasitas galangan untuk perbaikan (reparasi).

Padahal selama ini, untuk kegiatan reparasi kapal saja, kapasitas terpasang galangan nasional cenderung defisit 1,2 juta DWT per tahun.

Amir menegaskan DRU berpengalaman lebih dari 40 tahun di dunia industri galangan kapal sehingga kemampuan perseroan dalam membangun berbagai jenis dan ukuran kapal, terutama untuk kepentingan angkutan laut dalam negeri, tidak perlu diragukan.

Kapal-kapal yang pernah dibangun antara lain kapal jenis ferry roll on roll off (roro) bahkan yang terbesar dengan panjang di atas 100 meter, kapal coaster, kapal patroli, kapal penunjang alutsista, crew boat, kapal cepat (speed boat), kapal yang terbuat dari aluminium hingga kapal tanker 17.500 GT.

Dengan aneka produk kapal yang dibangun, cukup untuk menunjukkan bahwa DRU memiliki kemampuan yang mumpuni dalam menangani kapal-kapal berskala besar, tidak hanya terbuat dari baja atau fiber, tetapi juga kapal yang terbuat dari aluminium yang membutuhkan keahlian tambahan.

Direktur DRU Steven Angga Prana mengatakan perseroan berpengalaman dalam membangun berbagai jenis kapal hingga yang berskala besar dengan panjang lebih dari 100 meter.

Hal ini diperlihatkan dari keberhasilan perseroan dalam merampungkan kapal Ferry Roro 5.000 GT pesanan Kementerian Perhubungan, kapal LST pesanan Kementerian Pertahanan dan kini sedang membangun kapal tanker 17.500 GT pesanan PT Pertamina (Persero).

"Padahal, penanganan kapal sebesar itu memerlukan perlakuan khusus yang berbeda dengan kapal-kapal lainnya, baik dari sisi fasilitas, peralatan yang digunakan, keahlian sumber daya manusianya, nilai investasi, jumlah tenaga kerja maupun spesifikasi komponen kapalnya," kata Steven.

Untuk diketahui, kapal LST sebagai salah satu karya anak bangsa yang dibangun DRU. Kapal ini menjadi bukti keberhasilan perseroan dalam membangun kapal dengan panjang lebih dari 100 meter.

Kapal milik TNI Angkatan Laut didesain mampu mengangkut minimal 10 unit Tank MBT Leopard TNI Angkatan Darat dan Tank BMP-3F Marinir.

Kapal yang diberi nama KRI Teluk Bintuni 520 tersebut dipesan oleh Kementerian Pertahanan. Mulai dibangun pada 2013 dan diserahterimakan pada Juni 2015. kapal ini mampu membawa 476 kru, termasuk pasukan dan 1 helikopter.

Selain itu, LST ini mampu menjelajahi laut pada kondisi laut terburuk dengan jarak jelajah 7.200 mil laut. Panjang kapal mencapai 120 meter dan mampu bekerja dengan kecepatan 16 knot, didukung dua unit mesin masing-masing berkapasitas 3.285 KW. KRI Teluk Bintuni 520 ini seutuhnya hasil karya anak bangsa.

Steven menambahkan untuk meningkatkan layanan kepada pemesan, perseroan berkomitmen menjaga performance delivery time kapal dengan membentuk tim project management guna mempercepat pembangunan kapal. "Ini sudah menjadi komitmen kami agar penyerahan kapal dapat tepat waktu," katanya.

Corporate Communication DRU Tularji Adji mengatakan kapal yang dihasilkan perseroannya selalu mengutamakan material dan peralatan yang sudah diproduksi di dalam negeri seperti steel material, deck machineries, peralatan listrik dan sebagainya.

Tidak hanya dari sisi pengutamaan penggunaan komponen kapal dalam negeri, perseroan juga mengembangkan teknologi desain kapal. Mereka memahami bahwa dukungan industri desain kapal terhadap kemajuan industri galangan kapal nasional sangat penting.

Dia mencontohkan, dalam membangun kapal Alutsista jenis LST milik TNI Angkatan Laut, perseroannya menggandeng desainer kapal asal Australia. "Kami sedang mengembangkan industri desain kapal sendiri, salah satunya melalui kolaborasi dengan desainer kapal asal Australia dalam rangka alih teknologi," katanya.

Saat ini DRU memiliki tiga galangan kapal, yakni galangan kapal di Jakarta yang memiliki kapasitas hingga 15.000 DWT, di Surabaya berkapasitas 30.000 DWT dan satu lagi galangan kapal di Lampung berkapasitas 70.000 DWT.

Rencananya, DRU menjadikan galangan di Jakarta dan Lampung sebagai pusat kegiatan reparasi kapal dan pembangunan kapal-kapal dengan kapasitas kecil, sedangkan galangan di Surabaya akan menjadi pusat pembangunan kapal baru. (media industri) (hlz/hlz)


Komentar