Kamis, 28 Januari 2021 | 21:16 WIB

Visit our social media :
Home / Transportation / Technology
Sabtu, 26 Maret 2016 15:07

Menanti Pesawat N219 Membelah Langit Nusantara

Hery Lazuardi

JAKARTA -

Pesawat terbang N219 menjadi bukti kebangkitan kembali industri dirgantara nasional, setelah pesawat N250 buatan anak bangsa terbang perdana di langit Indonesia 20 tahun silam.

Pada 10 Desember 2015, prototipe pesawat terbang N219 diperkenalkan untuk pertama kali kepada publik di PT Dirgantara Indonesia, Bandung.

Pesawat hasil kerja sama antara PT DI dan Lembaga Antaraiksa dan Penerbangan Nasional (Lapan) sejak 2006 itu hanya butuh 6 bulan lagi agar bisa terbang. Setelah itu, N219 diharapkan sudah mengantongi sertifikasi terbang pada akhir 2016 dan siap diproduksi mulai 2017.

Program pengembangan pesawat yang diperkirakan menelan dana Rp500 miliar ini patut dibanggakan karena murni dikembangkan oleh insinyur lokal, mulai dari rancang bangun, sertifikasi, hingga produksi.

Menurut Ketua Lapan Thomas Djamaluddin, N219 dirancang khusus sesuai dengan kondisi wilayah di Tanah Air. Pesawat ini masuk kategori perintis (light aircraft) sehingga cocok untuk melayani daerah terpencil yang memiliki landasan pendek dan topografi berbukit.

"N219 menjawab permasalahan di wilayah seperti itu karena mampu lepas landas dan mendarat di landasan kurang dari 800 meter serta mampu bermanuver di daerah berbukit," jelasnya.

Pesawat berkapasitas 19 tempat duduk ini diklaim mudah dan sederhana dalam proses perawatannya sehingga biaya operasinya pun rendah.

Konfigurasi tempat duduknya dapat diubah dengan cepat dan bisa untuk mengangkut penumpang dan kargo, serta cocok digunakan untuk keperluan sipil maupun militer. Ini dimungkinkan karena N219 memiliki volume kabin terbesar di kelasnya dengan pintu yang fleksibel.

Selain itu, struktur pesawat dirancang mampu membawa bahan bakar lebih banyak mengingat tidak semua bandara di daerah terpencil memiliki fasilitas pengisian bahan bakar.

PT DI dan Lapan membekali N219 dengan sertifikasi dasar CASR 23 dan sepasang mesin PT6A-42 masing-masing berkekuatan 850 daya kuda.

Pesawat ini juga dilengkapi dengan alat bantu navigasi sehingga mampu lepas landas dan mendarat di bandara bandara perintis dengan peralatan minimal.

Chief Engineering Pesawat N219 Palmana Banandhi menjelaskan N219 mampu mengangkut 500 kilogram lebih banyak dari pesaingnya, sementara dari sisi performa hampir sama.

N219 menggunakan teknologi 1990-an yang menggabungkan teknologi air foil CN 235 dan N250. Teknologi ini dinilai lebih unggul dari sisi aerodinamika dibandingkan dengan pesawat sekelas, seperti Twin Otter, yang masih menggunakan teknologi mesin 1960.

Selain itu, jelas Palmana, N219 mampu lepas landas atau mendarat di segala jenis landasan, termasuk yang tak beraspal atau landasan tanah.

Pesawat ini juga mampu bermanuver pada kecepatan rendah sehingga sangat cocok untuk
wilayah Papua yang berbukit-bukit.

Kendati belum rampung 100 persen, sejumlah maskapai penerbangan sudah antre untuk membeli pesawat yang akan dijual sekitar USD 5 juta-6 juta ini.

Thomas optimistis N219 bakal diterima pasar, apalagi sebagian besar armada pesawat berkapasitas 10-19 kursi yang beroperasi saat ini sudah berusia lebih dari 25 tahun. Padahal, usia pesawat dibatasi maksimal 30 tahun sehingga banyak armada yang perlu diganti.

Selama ini, sebagian maskapai penerbangan masih mengoperasikan pesawat sejenis Twin Otter untuk melayani daerah terpencil, terutama di kawasan timur Indonesia. Namun, jumlah pesawat itu sangat terbatas, sudah tua, dan melewati masa layak terbang.

Menteri Koordinator Politik, Hukum, dan Keamanan Luhut Binsar Pandjaitan saat acara penampilan perdana N219 di PT DI Bandung, 10 November 2015, mengatakan Presiden ingin N219 dikembangkan lebih besar untuk memenuhi kebutuhan pasar dunia, tidak hanya di dalam negeri.

"Presiden ingin bangsa ini memiliki nilai kompetitif tinggi. Pesawat ini diciptakan anak-anak Indonesia yang sangat membanggakan," kata Luhut.

Harapan Presiden sejalan dengan rencana Lapan dan PT DI yang memang berencana mengembangkan sederet pesawat lainnya, yakni N234 untuk 50 penumpang dan N270 untuk 70 penumpang. (MI) (hlz/hlz)


Komentar