Minggu, 17 Januari 2021 | 07:24 WIB

Visit our social media :
Home / Transportation / Technology
Sabtu, 26 Maret 2016 12:00
ARTIKEL

Teknologi Sambungan Rel Kereta Api Lokal Geser Produk Impor

Hery Lazuardi

JAKARTA -

Selama ini PT Kereta Api Indonesia (Persero) mengimpor sambungan rel berisolasi (insulated rail joint) karena produk dalam negeri belum memenuhi spesifikasi teknis.

Kelemahan ini berhasil dipecahkan oleh peneliti dari Balai Besar Bahan dan Barang Teknik (B4T) Kementerian Perindustrian dengan mengembangkan sambungan rel berisolasi dari bahan komposit dengan tulangan baja.

Hasil riset para peneliti dari B4T Kemenperin itu bahkan meraih penghargaan 20 Karya Unggulan Iptek Anak Bangsa dari Kementerian Riset, Teknologi, dan Pendidikan Tinggi pada Hari Kebangkitan Teknologi Nasional (Hakteknas) 2015.

Penghargaan tersebut diserahkan langsung oleh Menteri Riset, Teknologi, dan Pendidikan Tinggi M. Nasir kepada Kuntari Adi Suhardjo, Hafid, dan Surasno yang memilih penelitiannya dengan judul Sambungan Rel Berisolasi (Insulated Rail Joint) dari Bahan Komposit dengan Tulangan Baja sebagai Substitusi Impor.

Insulated rail joint (IRJ) adalah suatu plat penyambung antar rel kereta api yang juga berfungsi sebagai isolator. Fungsi isolator itu untuk mengisolasi jika ada arus listrik liar yang mengalir pada ujung sambungan rel.

Adapun, section yang dipasangi IRJ tersebut dinamakan track circuit, yang digunakan sebagai alat pendeteksi keberadaan kereta api.

Mengingat fungsinya sebagai penyambung rel, maka IRJ juga menanggung beban atau gaya kereta api, baik statis maupun dinamis. Oleh karena itu, IRJ harus kuat sehingga perlu diberi tulang baja.

Selama ini, IRJ yang digunakan oleh PT Kereta Api Indonesia (KAI) masih impor, sebab IRJ dalam negeri tidak bertulang baja dan mutunya belum memenuhi syarat spesifikasi teknis KAI sehingga umur pakainya pendek.

"Invensi ini dibuat untuk mengatasi kekurangan-kekurangan teknologi yang sudah ada pada pembuatan IRJ sebelumnya dan sebagai substitusi impor. Kami berharap dengan hasil penelitian ini, produk dalam negeri khususnya IRJ bisa lebih berkualitas sehingga sesuai kebutuhan perusahaan seperti KAI," kata Kuntari.

Penelitian ini sudah mengantongi paten dengan nomor ID P0034451 pada 19 September 2013.

Dari sisi proses manufaktur, peneliti B4T itu mengungkapkan faktor utama yang berpengaruh terhadap pembuatan IRJ adalah proses pemanasan resin, yaitu suhu, tekanan, dan waktu.

Teknologi proses pembuatannya meliputi proses lay up, mixing antara resin, serat, katalis, penyusunan orientasi serat, jumlah lapisan serat, jenis konstruksi serat gelas, serta fraksi volume antara serat dan resin.

"Walaupun penelitian ini dilakukan secara skala laboratorium, tetapi kegiatan produksi dapat diusahakan secara komersial oleh IKM industri komposit di dalam negeri yang padat karya sehingga dapat membuka lapangan kerja baru," ujar Kuntari.

Harga produk IRJ komplet (1 set terdiri dari 2 unit) yang dibuat inventor pada saat dilakukan penelitian pada 2010 sekitar Rp 1,9 juta, sedangkan IRJ impor mencapai Rp 6 juta sehingga lebih menguntungkan dan dapat menghemat devisa negara Rp 160 miliar-Rp240 miliar.

Kontribusi BPPI

Kepala Badan Penelitian dan Pengembangan Industri (BPPI) Haris Munandar mengapresiasi hasil penelitian dan pengembangan (litbang) yang dilakukan oleh Balai Besar dan Baristand Industri di lingkungan Kementerian Perindustrian, termasuk B4T.

"Inovasi tersebut diharapkan menghasilkan produk dan servis yang lebih baik, proses produksi yang lebih efisien, tingkat kepuasan pengguna yang lebih tinggi, serta pertumbuhan usaha yang lebih tinggi sehingga meningkatkan produktivitas dan daya saing industri nasional," ujarnya.

Saat ini BPPI memiliki 23 unit Balai, 11 Balai Besar, 11 Balai riset dan standardisasi industri dan 1 balai sertifikasi dengan jumlah SDM Peneliti sebanyak 281 orang dan Perekayasa 53 orang.

Hasil mengatakan kontribusi para peneliti, perekayasa dan pegawai di bawah BPPI diharapkan semakin signifikan dalam memajukan industi nasional melalui litbang.

Kontribusi yang dilaksanakan BPPI selama ini antara lain pelaksanaan inovasi dan riset yang dibutuhkan industri serta penyediaan solusi teknis terhadap berbagai permasalahan yang dihadapi oleh dunia industri.

Selain itu, revitalisasi fungsi litbang teknologi dalam rangka peningkatan penguasaan teknologi atau percepatan alih teknologi dan kemandirian bangsa, serta peningkatan aplikasi hasil-hasil litbang nasional dan perlindungan HKI.

"Dalam kegiatan litbang, Balai Besar dan Baristand di lingkungan BPPI menerapkan pendekatan berbasis pasar (market driven-oriented). Hal tersebut dilakukan agar hasil penelitian dapat dirasakan manfaatnya secara langsung oleh dunia industri," ujar Kepala BPPI.

Pada Peringatan Hakteknas ke-20, BPPI juga menerima penghargaan sebagai juara umum olahraga antar Kementerian/Lembaga.

Kegiatan Kementerian Ristekdikti yang melibatkan pihak pemerintah, swasta, dan industri ini diharapkan menginspirasi dan memotivasi masyarakat untuk berpikir kreatif dan inovatif sehingga memberikan kontribusi bagi pembangunan bangsa. (media industri) (hlz/hlz)


Komentar