Jumat, 24 Mei 2019 | 22:44 WIB

Kunjungi di social media :
Home / Regulasi / Transportasi
Jumat, 07 Oktober 2016 09:28

Kota-kota Indonesia Belum Ramah Pejalan Kaki, Sepeda dan Angkutan Umum

Editor

JAKARTA - Indonesia masih harus bekerja keras agar kota-kotanya ramah terhadap pejalan kaki, pengguna sepeda dan pengguna transportasi publik. Ketiga moda transportasi ini menghasilkan emisi gas rumah kaca yang rendah.

Selain membantu pengendalian perubahan iklim, menurut Utusan Khusus Presiden untuk Pengendalian Perubahan Iklim, Rachmat Witoelar, upaya itu mengurangi polusi udara dan kemacetan, menjadi alternatif olahraga sehingga meningkatkan kesehatan dan kualitas hidup masyarakat.

Menurut Rachmat, beberapa inisiatif sudah dilakukan oleh pemerintah nasional dan pemerintah kota terkait upaya tersebut. Ia menunjuk contoh misalnya, pemerintah telah mengembangkan program Kota Hijau atau Green City Program.

Salah satu atribut program tersebut adalah Green Transportation dimana infrastruktur jalan kaki, bersepeda, dan penggunaan transportasi publik harus menjadi satu sistem yang terintegrasi.

Beberapa kota di Indonesia mulai membangun infrastruktur transportasi yang memberi perhatian lebih pada pejalan kaki, pesepeda, dan pengguna transportasi publik.

"Hal ini untuk mengurangi ketergantungan masyarakat terhadap kendaraan pribadi yang menyebabkan macet, polusi udara, dan emisi gas rumah kaca tinggi," kata Rachmat saat menjadi salah satu pembicara kunci pada Walk21 Hong Kong, Kamis (6/10).

Walk21 Hong Kong merupakan konferensi tahunan bagi berbagai pemangku kepentingan terkait transportasi berkelanjutan, terutama opsi untuk berjalan kaki. Tahun ini, 580 peserta hadir dari 38 negara mengikuti konferensi yang diselenggarakan di Hong Kong Convention and Exhibition Center sejak pada 3-7 Oktober 2016.

Dia mengemukakan, dalam Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional (RPJMN) tercantum beberapa program utama untuk membangun infrastruktur transportasi massal yang berkelanjutan di berbagai kota di Indonesia, baik di Pulau Jawa maupun luar Jawa. 

Program tersebut agar terjadi pemerataan pembangunan dan mengurangi tingkat urbanisasi yang tidak terkontrol. "Program-program pemerintah memang akan fokus untuk membangun transportasi umum berbasis kereta, tidak hanya di Jawa tapi juga di luar Jawa," katanya seperrti dikutip situs setkab, Jumat (7/10). 

Namun, Rachmat mengingatkan perlunya mempersiapkan masyarakat agar menyukai ketiga transportasi non-motor tersebut. (hlz/hlz)


Komentar