Kamis, 14 November 2019 | 03:05 WIB

Visit our social media :
Home / Transportation / Ports
Rabu, 12 Oktober 2016 08:34

Pelindo I Klaim Dwelling Time di Pelabuhan Belawan Menurun

Translog Today

JAKARTA - PT Pelabuhan Indonesia I (Persero) mengklaim waktu tunggu bongkar muat barang (dwelling time) di Pelabuhan Belawan Medan semakin baik, seiring dengan penerapan sejumlah regulasi baru di pelabuhan tersibuk di Sumatra itu.

Menurut Sekretaris Perusahaan Pelindo I M Eriansyah, dwelling time di Belawan kini sudah mencapai 3,18 hari, dengan porsi Pelindo I kurang dari satu hari.

"Melihat perkembangan ini, kami optimistis instruksi Presiden untuk mempersingkat dwelling time akan dapat terpenuhi," ujarnya, Rabu (12/10).

Dia mengungkapkan upaya untuk menekan dwelling time di Belawan, antara lain membangun kawasan penyangga (buffer zone) seluas 1 hektare untuk menampung peti kemas dari zona I yang telah mengantongi surat persetujuan pengeluaran barang (SPPB).

Sebelumnya, tutur Eriansyah, peti kemas yang telah dibongkar dari kapal menumpuk di zona I padahal sudah mengantongi SPPB.

"Sekarang peti kemas segera dipindahkan ke kawasan penyangga sehingga tidak lagi menumpuk di zona I," ujarnya.

Dwelling time dihitung sejak peti kemas dibongkar dari kapal sampai dengan keluar dari gerbang area pelabuhan setelah melalui beberapa tahapan pemeriksaan (pre clearance, clearance, dan post clearance) dengan melibatkan beberapa instansi.

Pelindo I sudah menetapkan protap mulai Oktober 2016, yakni peti kemas yang telah mengantongi SPPB dalam waktu 1x24 jam harus dipindahkan ke kawasan penyangga.

Untuk mengurangi penumpukan di zona I, Pelindo I juga menerapkan diskon 3%-5% bagi pemilik peti kemas yang melakukan pembongkaran di luar jam sibuk, yakni pukul 07.00 - 12.00 WIB dan jam 12.00 - 17.00 WIB.

Selain itu, perseroan menerapkan sistem barcode untuk transaksi. Pemilik peti kemas dapat melakukan pembayaran secara online dari mana saja dan secara otomatis akan menerima barcode untuk mengeluarkan peti kemas dari area pelabuhan. Barcode itu ditunjukkan kepada petugas untuk di-scan.

Untuk mempercepat bongkar muat, kata Eriansyah, Pelindo I membuat kesepakatan dengan pihak kapal yang dituangkan melalui service level agreement (SLA) dan service level guarantee (SLG), serta menerapkan sistem denda apabila terjadi keterlambatan.

"Kami juga terus berkoordinasi dengan pihak-pihak terkait lainnya seperti Bea Cukai, Karantina, bahkan dengan importir" ujarnya.

Dia mengakui beberapa importir ada yang tidak segera mengeluarkan peti kemas dari pelabuhan untuk menghindari biaya gudang, sehingga Pelindo I kini menerapkan sistem progresif.

Adapun tarif dasar untuk bongkar muat Rp37.000 untuk satu peti kemas pada hari pertama, dua hari dikenakan tarif 250%, tiga hari 400%, dan hari keempat 700%, agar importir segera memindahkan barangnya.

Pelindo I mengelola 18 pelabuhan di Sumatra Utara, Aceh, Riau, dan Kepulauan Riau. Dua di antaranya merupakan pelabuhan utama yakni di Dumai dan Belawan.

Belawan merupakan pelabuhan peti kemas terbesar di bagian barat Indonesia serta termasuk pelabuhan dengan lalulintas terpadat. (hlz/hlz)


Komentar