Selasa, 16 Oktober 2018 | 19:13 WIB

Kunjungi di social media :
Home / Logistik / Supply Chain
Kamis, 03 November 2016 17:35

Bank Dunia Kucurkan US$400 Juta untuk Reformasi Logistik Indonesia

Translog Today
(Kemenperin)

JAKARTA - Bank Dunia siap menggelontorkan US$400 juta untuk program reformasi logistik Indonesia melalui Pinjaman Kebijakan Pembangunan (Development Policy Loan)

Kepala Perwakilan Bank Dunia di Indonesia Rodrigo Chaves mengatakan pendanaan tersebut bertujuan memperbaiki sistem logistik dan memperlancar konektivitas di Indonesia.

"Reformasi logistik akan membantu Indonesia mencapai sasaran pertumbuhan inklusif yang lebih tinggi," katanya dalam keterangan resmi di Jakarta, Kamis (3/11).

Pendanaan tersebut, tutur Chaves, akan mendukung Indonesia mengatasi hambatan rantai pasokan, seperti lamanya dwelling time atau waktu tunggu bongkar muat di pelabuhan dan banyaknya prosedur izin perdagangan.

Hambatan bongkar muat itu merupakan salah satu faktor membuat biaya logistik Indonesia mencapai 25% untuk penjualan manufaktur, dibandingkan 15% di Thailand dan 13% di Malaysia.

Sebagai contoh, tuturnya, biaya pengiriman sebuah peti kemas berisi jeruk dari Shanghai ke Jakarta saat ini lebih murah dibandingkan dengan biaya pengiriman komoditas serupa dari Jakarta ke Padang.

Padahal jarak antara kedua kota di Indonesia tersebut hanya seperenam jarak antara Jakarta dan Shanghai.

"Logistik yang lebih baik untuk meningkatkan konektivitas akan memberi dampak signifikan bagi daya saing negara juga terhadap kemiskinan. Perbaikan logistik bisa mengurangi biaya barang dan jasa, khususnya di wilayah terpencil dan tertinggal," kata Chaves.

Dia mengatakan pinjaman tersebut juga akan mendukung Indonesia melakukan masa transisi, yaitu dari ekonomi yang bergantung pada komoditas menuju ekonomi berbasis manufaktur yang berdaya saing tinggi.

Senior Economist Bank Dunia Massimiliano Cali menambahkan biaya logistik yang mahal dan tidak andal merupakan salah satu hambatan bagi peningkatan daya saing Indonesia.

"Jika hambatan itu bisa diatasi, produksi dan ekspor meningkat sehingga mendorong pertumbuhan ekonomi. Dengan berakhirnya masa kejayaan komoditas, kebutuhan untuk memperbaiki daya saing dalam hal produksi non-komoditas menjadi semakin penting," ujarnya.

Tiga komponen utama pendanaan tersebut adalah peningkatan kinerja pelabuhan, peningkatan daya saing layanan logistik, dan penguatan fasilitasi perdagangan.

Dukungan Bank Dunia terhadap reformasi logistik merupakan bagian penting dari Kerangka Kerja Kemitraan Negara Kelompok Bank Dunia di Indonesia, yang berpusat pada prioritas pemerintah untuk melakukan perubahan besar. (hlz/hlz)


Komentar