Minggu, 21 Juli 2019 | 09:04 WIB

Kunjungi di social media :
Home / Transportasi / Penerbangan
Senin, 05 Desember 2016 20:09

Industri Penerbangan Nasional Defisit 800 Tenaga Ahli MRO Tiap Tahun

Translog Today

JAKARTA - Indonesia masih kekurangan sekitar 800 tenaga ahli di bidang perawatan dan perbaikan pesawat (MRO) setiap tahun, sehingga perlu akselerasi penambahan jumlah dan mutu sumber daya manusia di bidang tersebut.

"Saat ini, sekolah-sekolah teknisi penerbangan di dalam negeri hanya menghasilkan 200 tenaga ahli per tahun, sedangkan kebutuhannya mencapai 1.000 orang per tahun," kata Dirjen Industri Logam, Mesin, Alat Transportasi dan Elektronika (ILMATE) Kemenperin I Gusti Putu Suryawirawan.

Dia menyampaikan hal itu seusai mendampingi Menteri Perindustrian Airlangga Hartarto bertemu dengan Ketua Dewan Pimpinan Indonesia Aircraft Maintenance Service Association (IAMSA) Richard Budihadianto di Jakarta, Jumat (2/12).

Menurut Putu, Indonesia membutuhkan 12.000 hingga 15.000 tenaga ahli di bidang maintenance, repair and overhaul (MRO) hingga 15 tahun ke depan guna memenuhi kebutuhan industri penerbangan nasional.

Oleh karen itu, tuturnya, Kemenperin akan memfasilitasi peningkatan kompetensi SDM kedirgantaraan nasional melalui kerja sama dengan perguruan tinggi dan pelaku industri untuk melaksanakan pendidikan kejuruan yang memenuhi standar nasional maupun international.

"Ke depannya, kami aktif terlibat di dalam kegiatan pendidikan vokasi untuk mendorong pengembangan industri penerbangan nasional, khususnya di bidang MRO," ujarnya.

Peningkatan SDM tersebut, kata Putu, seiring dengan potensi bisnis MRO di Indonesia yang saat ini mencapai US$920 juta dan diproyeksikan naik menjadi US$2 miliar dalam 4 tahun ke depan.

"Sejakperaturan pemerintah tentang industri jasa penerbangan di Indonesia mulai dilonggarkan pada 2000, pertumbuhan jasa penerbangan meningkat tajam dalam satu dekade terakhir," ungkap Putu.

Menperin Airlangga mengatakan, industri penerbangan dalam negeri terus berkembang dan mengalami pertumbuhan yang cukup signifikan. Hal ini diindikasikan dengan kenaikan jumlah lalu lintas udara, baik penumpang maupun untuk arus barang.

"Pertumbuhan jumlah penumpang udara domestik rata-rata naik 15% per tahun selama 10 tahun terakhir, sedangkan jumlah penumpang udara internasional naik sekitar 8% dan Indonesia merupakan negara terbesar ketiga di Asia dalam pembelian pesawat setelah China dan India," katanya.

Sementara itu, Richard mengungkapkan bisnis MRO perlu didukung ketersediaan SDM yang andal dan kompeten melalui kerja sama dengan institusi pendidikan seperti politeknik dan universitas melalui program beasiswa atau pinjaman dana pendidikan.

"Selain itu perlu dibangun sarana yang cukup untuk menampung tenaga ahli yang dididik sesuai dengan kompetensi menjadi teknisi pesawat yang andal," ujarnya.

Richard mengatakan, pihaknya membutuhkan sekitar 1.000 lulusan teknisi perawatan pesawat setiap tahun. "Untuk itu, kami menyarankan, kalau mau bersaing secara internasional, lulusan kita harus tingkat D3."

Dia menilai, lulusan D3 lebih mudah menyerap pelatihan yang diberikan oleh perusahaan penerbangan yang menggunakan teknologi tinggi.

"Bagi mereka yang lulus SMK bidang penerbangan dapat melanjutkan sekolahnya hingga D3 agar dapat menjadi tenaga kerja yang mampu bersaing di dunia penerbangan internasional," tuturnya.

IAMSA akan bersinergi dengan Kemenperin untuk pembangunan unit pendidikan ataupun penyediaan tenaga pengajar ahli di bidang perawatan pesawat. Selain itu, pihaknya bekerja sama dengan industri yang akan menampung para lulusan agar dapat langsung bekerja. (hlz/hlz)


Komentar