Senin, 22 Oktober 2018 | 12:10 WIB

Kunjungi di social media :
Home / Transportasi / Kereta Api
Kamis, 15 Juni 2017 22:50

Bambang Haryo: Prioritaskan Penambahan Rolling Stock!

Hery Lazuardi
Anggota Komisi VI DPR Bambang Haryo Soekartono

JAKARTA - Penambahan rangkaian kereta api (rolling stock) di Jawa dan Sumatera harus menjadi prioritas pemerintah ke depan guna mencegah kemacetan dan kecelakaan di jalan raya yang terus meningkat, sekaligus memenuhi kebutuhan angkutan logistik.

Menurut anggota Komisi VI DPR RI Bambang Haryo Soekartono, pemerintah seharusnya mengoptimalkan moda kereta api sebagai angkutan publik massal, baik untuk penumpang maupun barang (logistik).

"Saat ini, utilisasi rel masih kurang dari 5% untuk transportasi publik sehingga perlu penambahan rolling stock dalam jumlah besar agar optimal, terutama di jalur utara, tengah dan selatan Jawa," katanya, Kamis (15/6).

Dia menilai penambahan rolling stock lebih mendesak dan efektif dibandingkan dengan program pembangunan light rapid transit (LRT) di 10 kota besar yang dicanangkan pemerintah.

Pasalnya, LRT hanya melayani penumpang di satu kota secara terbatas, sedangkan kereta api bisa nengangkut penumpang dan barang dalam jumlah besar di ratusan kota yang dilaluinya sehingga ekonomi tumbuh.

Selain itu, lanjut Bambang Haryo, LRT menelan investasi sangat besar, seperti proyek di Palembang yang menghabiskan Rp10,9 triliun. Dana sebanyak ini bisa dipakai untuk menambah 150 rangkaian KA dengan asumsi satu set rolling stock seharga Rp70 miliar.

Dia yakin tambahan kapasitas angkut hingga 150% itu bisa memecahkan problem kemacetan di Jawa dan back log di Sumatera, serta memperlancar transportasi logistik.

"Dengan demikian, pemerintah tidak perlu menghentikan angkutan logistik setiap masa Lebaran. Kebijakan ini hanya mendorong inflasi, kelangkaan barang dan tenaga kerja tidak produktif karena terlalu banyak libur," ujarnya.

Anggota Fraksi Gerindra ini mengaku kecewa pemerintah justru mengalihkan penyertaan modal negara (PMN) rolling stock PT Kereta Api Indonesia (Persero) di Sumatera untuk proyek LRT Jabodetabek.

"Mengapa anggaran itu ‘diselewengkan' untuk LRT. Ini diskriminatif karena seolah LRT Jakarta lebih penting dibandingkan Sumatera yang butuh tambahan rolling stock untuk angkutan penumpang dan logistik," ungkapnya.

Bambang Haryo juga belum melihat upaya konkret pemerintah mengalihkan kendaraan pribadi menuju jalur selatan dan tengah Jawa pada masa mudik Lebaran. Akibatnya, arus mudik tetap terkonsentrasi di jalur utara karena jaraknya memang lebih pendek.

Selain itu, dia mengkritisi strategi pemerintah memprioritaskan pembangunan jalan tol ke wilayah tengah daripada utara Pulau Jawa. Padahal, di wilayah tengah tidak ada konektivitas intermoda laut yang penting, sebab semua pelabuhan utama berada di utara Jawa.

"Bangun jalur tol ke tengah (Jawa) itu tidak efektif. Harusnya utamakan di utara karena belum semuanya tersambung jalan tol. Tol di utara hanya sampai Semarang sehingga konektivitasnya kurang," ujarnya. (hlz/hlz)


Komentar