Kamis, 16 Agustus 2018 | 09:12 WIB

Kunjungi di social media :
Home / Logistik / Depo & Gudang
Rabu, 09 Agustus 2017 13:23

Tarif Handling Kendaraan di IKT Segera Mengacu Kesepakatan

Aidikar M. Saidi
Dirut PT Indonesia Kendaran Terminal (IKT) Chiefy Adi K. (translogtoday)

JAKARTA - Tarif handling kendaraan dan alat berat di terminal khusus kendaraan yang dikelola oleh PT Indonesia Kendaraan Terminal (IKT) segera menggunakan tarif kesepakatan antara perusahaan penyedia dan pemakai jasa.

"Besaran tarif itu tengah diproses dengan sejumlah asosiasi pemakai jasa," ujar Direktur Utama PT IKT Chiefy Adi K, Selasa (8/8).

Dia mengungkapkan hal tersebut sehubungan dengan adanya keluhan dari perusahaan pemakai jasa yang menyebutkan tarif IKT tidak wajar dan terlalu mahal, padahal jasa yang diberikan hanya numpang lewat.

Dalam acara media gathering di kantor baru IKT, Selasa (8/8), Chiefy mengatakan mahalnya tarif handling di IKT itu karena biaya investasi yang sangat besar.

Sebagai anak usaha PT Pelabuhan Indonesia II/IPC, lanjut Chiefy, IKT membutuhkan investasi, seperti tambahan lahan untuk pengembangan menuju terminal dedicated kelas dunia.

"IKT sebagai terminal kendaraan terbesar dan modern di Indonesia membutuhkan tambahan lahan pengembangan usaha," tuturnya.

Menurut Chiefy, IKT akan mengucurkan investasi Rp 4,4 triliun guna mengembangkan terminal kendaraan di Pelabuhan Tanjung Priok Jakarta.

Pengembangan terminal hingga 2020, termasuk perluasan lahan dari 23 hektare menjadi 89,5 hektare. Dengan demikian, kapasitas terminal meningkat dari 750.000 menjadi 2 juta kendaraan per tahun.

"Tahap awal, penambahan lahan IKT seluas 2,1 hektare eks -DKP akan di-launching pada Desember 2017," ujar Chiefy.

Dalam acara tersebut, manajemen IKT juga menyampaikan kinerja operasional dan keuangan per Juli 2017 secara garis besar, yakni untuk kunjungan kapal tumbuh 114% dibandingkan dengan realisasi Juli 2016.

Adapun throughput melonjak 138,6%, pendapatan naik 142%, laba meningkat 250%, dan Biaya Operasional Pendapatan Operasional (BOPO) tumbuh 56%, apabila dibandingkan dengan realisasi per Juli 2016. (hlz/hlz)


Komentar