Jumat, 20 Oktober 2017 | 02:54 WIB

Kunjungi di social media :
Home / Transportasi / Pelabuhan
Rabu, 04 Oktober 2017 20:32

Pelabuhan Makassar Terancam Kongesti Berat, Ini Penyebabnya

Aidikar M. Saidi
Tumpukan petikemas akibat kongesti (ilustrasi)

JAKARTA - Pelabuhan Makassar yang dikelola PT Pelabuhan Indonesia IV (Persero) terancam kongesti berat karena kapal terpaksa harus antre berhari-hari untuk mendapatkan pelayanan sandar dan bongkar muat petikemas domestik.

Pelabuhan tersibuk di Indonesia timur ini sudah tidak mampu lagi menerima dan melayani kegiatan kapal petikemas. Selain fasilitas dermaga terbatas, alat juga sering rusak karena kurang terawat.

Sedikitnya 16 kapal petikemas antarpulau terpaksa antre menunggu pelayanan sandar di TPK Makassar. General Manager TPK Makassar Yosef Beni Rohi, ketika dikonfirmasi mengenai hal tersebut, mengakui adanya antrean kapal di TPK Makassar.

Di TPK Makassar, jelasnya, Pelindo IV memiliki dan mengoperasikan container crane sebanyak tujuh unit di dermaga sepanjang 850 meter. Kapasitas sandar rata-rata hanya untuk empat kapal.

Saat itu, kata Yosef, terjadi antrean kurang kebih 14 kapal yang datang secara bersamaan. "Ke-14 kapal tersebut tidak seluruhnya bisa sandar karena ada keterbatasan panjang dermaga sehingga perlu antre," ujarnya.

Dalam waktu bersamaan, lanjut Yosef, kondisi diperparah karena terdapat dua unit crane dalam perbaikan tahunan (general overhaul) karena sudah waktu untuk dilakukan perawatan rutin.

Selain kondisi alat tersebut, delay kapal disebabkan beberapa kapal menunggu muatan mengakibatkan kapal berikutnya harus menunggu juga.

Windows System

Agar kondisi ini tidak terulang kembali, kata Yosef, TPK Makassar mendorong perusahaan pelayaran untuk melakukan windows system, sehingga ada kepastian tambatan dan kesiapan rencana alat yang lebih baik.

"Kami dari Pelindo IV sudah melakukan koordinasi dengan Otoritas Pelabuhan Makassar untuk pelaksanaan windows system," ujarnya.

Yosef mengatakan pada pelabuhan yang berstandar internasional, windows system sudah dilaksanakan dan bersifat wajib.

"Namun, belum semua perusahaan pelayaran melaksaan windows system di Pelabuhan Makassar sehingga kami mendorong agar mereka mau dan bersama-sama melaksanakannya," ungkapnya.

Melalui windows system, pihak pelayaran menginformasikan adanya kepastian kedatangan kapal dan kepastian bongkaran dan muatan petikemas sehinga pengaturan tambatan, peralatan dan sumber daya lainnya dapat dipersiapkan lebih optimal dan terencana dengan baik.

Kondisi serupa terjadi di Pelabuhan Belawan, Medan. Pekan lalu, enam kapal terpaksa antre hingga berhari hari sehingga windows berantakan karena lima crane di pelabuhan itu rusak secara bersamaan.

Akibatnya, pelabuhan terbesar di Sumatera itu terpaksa menerapkan pembatasan muatan kapal hingga 50% dari kapasitas untuk mengimbangi kemampuan crane agar bisa masuk windows.

Kondisi ini berbeda dengan Pelabuhan Tanjung Priok Jakarta dan Tanjung Perak Surabaya yang dinilai sudah siap menerapkan windows system, sehingga masalah seperti itu tidak terjadi.
(hlz/hlz)


Komentar