Jumat, 20 Oktober 2017 | 02:45 WIB

Kunjungi di social media :
Home / Transportasi / Pelabuhan
Rabu, 11 Oktober 2017 17:35

Tanjung Priok Ditargetkan Jadi Pelabuhan Transshipment Terbesar di Asia

Ire Djafar
Elvyn G. Masassya (kiri) dan Menhub Budi Karya Sumadi (translogtoday/ire)

JAKARTA - PT Pelabuhan Indonesia II (Persero)/IPC memproyeksikan Pelabuhan Tanjung Priok Jakarta menjadi salah satu pusat transshipment terbesar di Asia, yang sekaligus mendorong peningkatan volume lalu lintas petikemas.

Direktur Utama Pelindo ll Elvyn G. Masassya mengatakan, Tanjung Priok semakin mendapat kepercayaan dari operator pelayaran dunia untuk kegiatan transshipment seiring dengan kesiapan infrastruktur dan sumber daya manusia pelabuhan itu.

"Sekarang kami butuh dukungan pemerintah, perusahaan pelayaran, pemilik kargo dan pelabuhan lainnya, membantu kami untuk terus melakukan pendekatan langkah demi langkah dengan melibatkan semua pemangku kepentingan," kata Elvyn pada Indonesia CEO Talk di Jakarta Selasa (10/10).

Acara bertema Dampak Integrasi Pelabuhan Dan Logistik Terhadap Perekonomian Indonesia itu juga menampilkan pembicara Menteri Perhubungan Budi Karya Sumadi, CEO CMA-CGM Group Indonesia Farid Belbouab, Founder The National Maritime Institute (Namarin) Siswanto Rusdi, dan moderator Chandra Motik Yusuf.

Menurut Elvyn, Pelindo II telah memperbaharui dan meningkatkan pelayanan jasa kepelabuhanan, baik dari sisi sistem, fasilitas maupun infrastruktur.

Salah satu bukti kepercayaan internasional itu, kata Elvyn, IPC berhasil menarik kapal petikemas raksasa seperti CMA-CGM Pelleas berkapasitas 10.000 TEUs melakukan transshipment di Tanjung Priok.

"Kepercayaan itu semakin menguatkan kesiapan dan peranan Tanjung Priok sebagai pelabuhan transshipment, yang mendorong konsolidasi kargo dari seluruh pelabuhan di Indonesia," ujarnya.

Dia mengatakan transshipment akan memotong jalur ekspor-impor yang selama ini melewati Singapura atau Malaysia, sehingga pengiriman dapat dilakukan langsung melalui Pelabuhan Tanjung Priok, dari dan ke negara tujuan.

"Konsolidasi muatan dari pelabuhan lain dan menggunakan kapal yang lebih besar akan berdampak pada integrasi pelabuhan dan logistik yang menguntungkan terhadap perekonomian Indonesia," papar Elvyn.

Dukung Konektivitas

Menhub Budi Karya, yang menjadi pembicara pada acara itu, menyampaikan beberapa hal, mengenai kondisi pelabuhan di Indonesia sebagai salah satu komponen pendukung konektivitas.

Menurut dia, posisi Indonesia dalam rute pelayaran dunia sangat strategis karena memiliki Selat Malaka yang dilakui 60.000-80.000 kapal setiap tahunnya. Indonesia juga memiliki tiga alur laut kepulauan (ALKI) yang menjadi rute kedua (alternatif) pelayaran dunia.

Menhub memproyeksikan lalu lintas petikemas Indonesia akan meningkat lebih dari dua kali lipat pada 2020 dibandingkan volume 2009, dan akan naik dua kali lipat lagi pada 2030. "Untuk itu pengembangan terminal petikemas sangat diperlukan di berbagai lokasi pelabuhan, " kata Budi Karya.

Untuk meningkatkan kapasitas angkutan laut nasional, tuturnya, Kemenhub telah memberikan dukungan melalui penyelenggaraan Kewajiban Pelayanan Publik (Public Service Obligation/PSO).

Pada 2017, PSO penyelenggaraan angkutan penumpang laut dilayani 26 kapal, angkutan laut perintis melayani 96 jaringan trayek, dan angkutan ternak dilayani 1 kapal yang akan ditambah menjadi lima kapal pada 2018. (hlz/hlz)


Komentar