Jumat, 15 Desember 2017 | 03:56 WIB

Kunjungi di social media :
Home / Transportasi / Pelabuhan
Senin, 30 Oktober 2017 08:01

Terminal Petikemas Pontianak Makin Padat, Pemda dan Pelindo II Belum Punya Solusi Terbaik

Aidikar M. Saidi
Terminal Petikemas Pontianak

JAKARTA - Terminal Petikemas Pontianak semakin padat akibat tidak seimbangnya antara petikemas yang masuk dan keluar dari terminal tersebut, sehingga ancaman kongesti di Pelabuhan Pontianak sulit dihindari.

"Lebih banyak petikemas yang dibongkar dari kapal dan receiving masuk ke terminal dibandingkan dengan petikemas keluar dari terminal," ujar Budi Badawi, Sekjen Dewan Pimpinan Cabang Asosiasi Logistik Forwarding Indonesia (DPC ALFI) Kalimantan Barat, kepada translogtoday, Minggu (30/10).

Menurut dia, kondisi itu terjadi karena adanya pembatasan operasional truk oleh Dinas Perhubungan Kota Pontianak dan Dishub Provinsi Kalimantan Barat selama dua bulan pembangunan Jembatan Bansir.

Budi mengatakan ALFI Pontianak telah mengajukan berkali-kali untuk penambahan jam operasi truk petikemas kepada Pemkot dan Pemprov sebagai solusi untuk mencegah ancaman kongesti di Pelabuhan Pontianak.

Salah satu cara untuk mengatasi ancaman kongesti itu, tutur Budi, adalah penambahan jam operasi truk angkutan petikemas dari dan ke pelabuhan. "Jika perlu perlu dikawal agar tidak menimbulkan kemacetan di jalan raya," tuturnya.

Seluruh asosiasi pemakai dan penyedia jasa di Pelabuhan Pontianak sudah mengajukan permintaan kepada Dishub Pontianak dan Dishub Kalbar untuk menambah jam operasi truk mulai pukul 9 pagi hingga 11 siang untuk mengurangi kepadatan di terminal petikemas.

Saat ini, kata Budi, truk petikemas hanya diizinkan beroperasi mulai pukul 9 malam hingga 5 pagi setelah itu dilarang operasi. Ini dilakukan selama pembangunan Jembatan Bansir yang dijadwalkan selesai dalam 51 hari.

Usulan ALFI itu. lanjut Budi, disampaikan dalam empat kali rapat koordinasi bersama antara asosiasi perusahaan pemakai dan penyedia jasa Pelabuhan Pontianak dengan unsur pemerintah terkait .

Instansi itu, yakni Kantor Syahbandar dan Otoritas Pelabuhan (KSOP) Pelabuhan Pontianak, PT Pelabuhan Indonesia II Cabang Pontianak, Dishub Pontianak, Dishub Kalbar, dan Kepolisian.

"Namun usul tersebut tidak ditanggapi atau dikabulkan sampai sekarang, sementara kondisi kepadatan di terminal petikemas semakin parah " tuturnya.

Menurut Budi, saat Ini antara petikemas yang dibongkar dan receiving dengan yang keluar atau delivery sudah tidak seimbang. Petikemas lebih banyak yang dibongkar ketimbang yang keluar dari pelabuhan itu.

Kondisi ini diperparah lagi adanya larangan petikemas 40 kaki keluar pelabuhan. "Ini membuat Terminal Petikemas Pontianak menjadi semakin parah kepadatannya," tutur Budi.

Langkah Pelindo II

Namun General Manager Pelindo II Cabang Pontianak Wahyu Hardiyanto mengatakan pihaknya sudah mensinkronisasikan atau menyesuaikan langkah antisipasi dari kebijakan yang dikeluarkan pemda.

"Jadi kami sudah menyinkronkan kerja operasional terminal petikemas dengan pengaturan jam operasi truk oleh Dishub," ujarnya ketika dikonfirmasi terpisah.

Pelindo II Cabang Pontianak, kata Wahyu, kini mempercepat pelayanan delivery dan receiving pada pukul 9 malam hingga 5 pagi. Manager terminal juga sudah mengatur kelancaran terminal pada malam hingga pagi hari.

Sementara itu, sumber dari kalangan perusahaan pelayaran di Jakarta dan Surabaya mengatakan kondisi itu juga terjadi akibat bertambahnya jumlah kapal beroperasi ke rute Pontianak.

'"Serba salah bila jumlah call kapal dikurangi masuk rute Pontianak oleh pelayaran pasti freight atau ongkos angkut akan naik," kata sumber pelayan yang keberatan disebutkan jatidirinya.

Menurut dia, peralatan dan operasional Pelabuhan Pontianak sebenarnya sudah sangat baik, namun perusahaan pelayaran banyak yang tidak tertib dan sering mendadak datangkan kapal lebih banyak.

"Seharusnya perusahaan pelayaran mengurangi call kapal selama perbaikan jembatan atau pembatasan operasi truk petikemas oleh pemda," ujarnya. (hlz/hlz)


Komentar