Minggu, 24 Juni 2018 | 22:01 WIB

Kunjungi di social media :
Home / Transportasi / Pelabuhan
Minggu, 05 November 2017 12:03

Pelayaran Terus Tambah Rute, Pelabuhan Pontianak Makin Sesak

Aidikar M. Saidi

PONTIANAK -

Minat perusahaan pelayaran menambah call (kunjungan) kapal petikemas ke Pelabuhan Pontianak semakin tinggi, meskipun kondisi terminal petikemas di Provinsi Kalimantan Barat itu sudah semakin padat.

Perusahaan pelayaran yang meminta tambahan call kapal petikemas domestik itu antara lain PT Tanto Intim Lines, PT Meratus Lines, PT Tempuran Emas Tbk. dan PT Salam Pacific Indonesia Lines (SPIL). 

General Manager PT Pelabuhan Indonesia II (Persero)/IPC Wahyu Hardiyanto membenarkan banyak permintaan dari pelayaran untuk menambah call kapal masuk ke Pontianak.

"Windows di dermaga Terminal Petikemas Pelabuhan Pontianak sudah penuh, tapi masih banyak permintaan dari pelayaran. Tapi kami tetap melayani dengan non Windows System di dermaga konvensional," ujarnya kepada translogtoday, pekan lalu.

Pelindo II Cabang Pontianak, kata Wahyu, menyiapkan fasilitas dermaga 04 dan 05 yang dilengkapi dengan crane multipurpose untuk melayani  kapal non Windows tersebut.

Dia mengakui meski fasilitas dermaga masih mampu menampung, tapi fasilitas lapangan tidak mampu lagi karena lahan sangat terbatas.

Kepadatan itu terjadi setelah jembatan Bansir di jalan Imam Bonjol Pontianak hanyalah jembatan kecil yang melintasi anak Sungai Kapuas, ternyata sarana penghubung tersebut sangat vital sebagai akses keluar masuk distribusi barang ke Pontianak. 

Saat ini jembatan Bansir ditutup total karena sedang diperbaiki dan betonisasi, akibatnya kepadatan Terminal Petikemas (TPK) Pelabuhan Pontianak Kalbar pun meningkat tajam.

YOR Tinggi

Kepadatan yard occupancy ratio (YOR) di TPK Pontianak mencapai di atas 80%, pengaturan operasional dilakukan Pelindo II Cabang Pontianak, namun keterbatasan lahan memaksa pihak IPC menerapkan berbagai cara agar produktifitas arus barang tetap terjaga.

Menurut Wahyu, sejak jembatan Bansir ditutup sementara, pihaknya berupaya menyinkronkan kegiatan bongkar muat dengan pembatasan waktu truk petikemas di jalan dalam kota. T

Sinkronisasi itu termasuk mengatur lalu lintas di area pelabuhan Pontianak bagi truk-truk yang ingin receiving dan delivery, sesuai surat edaran Walikota Pontianak.

"Kami tetap mengutamakan bagi Pelayaran yang sudah kontrak windows system di TPK Pontianak, seiring sinkronisasi operasional dengan keputusan Walikota terkait perbaikan jembatan Bansir yang direncanakan memakan waktu selama 51 hari kerja,” ujarnya didampingi Manager TPK Hendri Purnomo.

Sebelumnya Pemerintah Kota Pontianak telah mengeluarkan pemberitahuan melalui surat edaran Walikota Pontianak nomor: /SE/DISHUB/2017 yang hanya memperbolehkan jenis kendaraan bertonase besar (truk petikemas 20 feet) beroperasi melintasi jalan dalam kota mulai pukul 21.00 hingga 05.00 WIB, sedangkan truk petikemas 40 feet dilarang sama sekali melintas di dalam kota Pontianak.

Untuk diketahui, jembatan Bansir merupakan jalur penghubung terdekat bagi truk-truk petikemas yang ingin membawa consumer goods maupun ekspor-impor menuju gudang di wilayah luar kota seperti Siantan maupun Singkawang.

Seandainya saja posisi gudang tujuan berada di luar kota yang melalui wilayah Jeruju, maka kondisi jembatan Bansir yang sedang ditutup tidak akan mempengaruhi YOR TPK pelabuhan Pontianak.

Di tempat terpisah, Sekretaris DPW ALFI Kalbar Budi Basari mengatakan, ALFI dalam rapat bersama pihak Pemkot Pontianak yang dihadiri Kepala KSOP Pontianak, telah mengajukan tambahan jam operasional bagi truk-truk yang melintasi jalur dalam kota.

“Mengurangi kepadatan pelabuhan Pontianak, kami mengajukan permohonan agar ditambah jam operasional truk petikemas, selain yang pukul 21.00 – 05.00 WIB dapat pula beroperasi pada pukul 09.00 – 11.00 WIB namun belum ada tanggapan,” tuturnya. (hlz/hlz)


Komentar