Jumat, 15 Desember 2017 | 03:56 WIB

Kunjungi di social media :
Home / Transportasi / Pelabuhan
Minggu, 12 November 2017 11:21

Terminal Petikemas Makassar Kronis, Pelindo IV Angkat Tangan?

Aidikar M. Saidi
Terminal Petikemas Makassar

JAKARTA - Ibarat terkena penyakit, kondisi Terminal Petikemas Makassar (TPM) sudah kronis, sehingga PT Pelabuhan Indonesia IV (Persero) dinilai tidak mampu lagi mengelola pelabuhan tersibuk di Sulawesi Selatan itu.

Pelaku usaha sangat dirugikan karena biaya logistik di pelabuhan menjadi bengkak, akibat lambannya proses pelayanan barang dan kapal di Pelabuhan Makassar itu.

Kondisi yang sama juga terjadi di sejumlah pelabuhan yang dikelola oleh Pelindo IV, yakni di Pelabuhan Pantoloan, Bitung dan Ambon.

Rute ke Pelabuhan Bitung kini banyak masuk kapal angkut ukuran besar hingga kapasitas 3.000 TEUs, yang dioperasikan oleh perusahaan pelayaran PT Tempuran Emas Tbk dan PT Salam Pacific Indonesia Lines (SPIL). 

Di pelabuhan itu, alat sering rusak, termasuk di Pantoloan dan Ambon dimana kondisi alat sangat memprihatinkan karena sudah tua dan kurang perawatan.

Ketua Asosiasi Logistik dan Forwarding Indonesia (ALFI) Sulawesi Selatan dan Barat (Sulselbar), Syarifuddin Ipho mengatakan kondisi ini memang terjadi dan merugikan perekonomian nasional.

"Alat yang ada di TPM sering bermasalah bahkan sakitnya berjamaah dan sudah kronis pula lagi," tuturnya ketika dhubungi translogtoday, MInggu (12/11).

Dia mengatakan container crane (CC) hanya tujuh unit, satu unit di antranya sudah tidak bisa beroperasi, Transtainer crane (RTG transtainer dan RMG transtainer) untuk handling petikemas di lapangan penumpukan terminal hanya 18 unit tetapi hampir setiap hari 4-6 unit alat rusak.

"Bagaimana mau melayani receving dan delivery dengan baik, bila kondisi alat seperti itu. Sudah pasti, kegiatan bongkar muat petikemas dari dan ke kapal terhambat. Inilah yang membuat kapal jadi antre,” tambahnya.

Belum lagi pelayanan delivery untuk in/out petikemas di container yard (CY) amburadul sehingga mobil antrean menjadi panjang setiap hari.

Sebagai informasi, in/out atau keluar masuk petikemas setiap hari di TPM sekitar 1.100 TEUs, sehingga apabila dibagi dua TT-nya hanya dilayani dengan sembilan unit jika bekerja semua. 

“Apa dengan kondisi seperti ini tidak menjadi kendala pelayanan, belum lagi pola susun petikemas yang tidak proporsional atau amburadul, sehingga untuk mengangkat satu petikemas dalam pelayanan delivery gerakan ekstra bisa dua sampai tiga boks,” ujarnya. 

Akibat kondisi itu, lanjut Ipho, pelayanan di TPM semakin parah dan menghambat kelancaran bongkar muat petikemas, dan pelayanan sandar kapal serta pelayanan delivery dan receiving.

Sayangnya,  tutur Ipoh, hingga kini belum ada solusi Pelindo IV untuk mengatasi hambatan pelayanan di terminal petikemas tersebut.  (hlz/hlz)


Komentar