Jumat, 15 Desember 2017 | 03:58 WIB

Kunjungi di social media :
Home / Regulasi / Maritim
Selasa, 21 November 2017 06:51

Menko Luhut: Artificial Intelligent Bakal 'Menjajah' Dunia di Masa Depan

Ire Djafar
(Kemenko Kemaritiman)

JAKARTA -

TNI dan Polri dituntut selalu siap menghadapi berbagai kesulitan dan tantangan masa depan, termasuk teknologi artificial intelligent yang bakal mengubah peta kekuatan dunia di masa depan.

Demikian disampaikan Menteri Koordinator Bidang Kemaritiman Luhut Binsar Pandjaitan, saat memberikan pembekalan kepada para perwira TNI dan Polri di Sekolah Staf dan Komando TNI, Bandung, Senin (20/11).

"Saya mulai sedikit memberikan gambaran untuk membuka perspektif Anda sebagai perwira,” ujar Menko Luhut menyampaikan maksud kehadirannya di hadapan 143 perwira berpangkat setara kolonel, termasuk lima perwira dari negara sahabat.

Dia mengingatkan para perwira agar siap menghadapi berbagai tantangan di masa depan, terutama tentang artificial intelligent. Di masa depan, penjajahan teknologi bakal menggantikan penjajahan fisik seperti kolonialisasi.

Pengakuan Dunia 

Dalam sesi bertopik Geopolitik dan Strategi Pembangunan Kemaritiman tersebut, Menko Luhut juga menyampaikan hasil-hasil pembangunan pemerintah yang diakui lembaga-lembaga internasional. 

"Ini pengakuan dari dunia internasional, tidak bisa kita karang-karang, tidak juga bisa kita sogok,” ujarnya sembari merujuk pada tiga data terbaru. 

Data pertama adalah dari S&P yang memberikan peringkat investment grade kepada Indonesia. Kedua, Gallup World Poll yang menempatkan pemerintah Indonesia sebagai peringkat pertama di dunia dalam hal perolehan kepercayaan publik.

Ketiga, Bank Dunia memberikan Indonesia peringkat ke-72 dalam hal kemudahan berbisnis, naik 48 tingkat sejak 2014.

Kepada para perwira siswa, Menko Luhut juga berpesan agar pengambilan keputusan harus dilakukan secara terintegrasi dan holistik, seperti gaya pemerintah sekarang. 

“Dalam proses pengambilan keputusan harus terintegrasi, semua harus terlibat,” ujarnya sambil menceritakan penyelesaian masalah produksi garam nasional yang ternyata harus melibatkan menteri di bidang pertanahan. 

"Masalah tanah, nanti saya panggil Pak Sofyan (Menteri Agraria dan Tata Ruang), dua kali kami rapat, (tim) teknis jalan, sebulan setengah sudah dapat proposal dari tim dan memang musti berkait, tidak bisa satu kementerian menyelesaikan satu masalah,” jelas Menko Luhut menekankan bahwa keberhasilan hanya dapat dicapai dengan kerja sama tim.

(hlz/hlz)


Komentar