Selasa, 23 Januari 2018 | 06:59 WIB

Kunjungi di social media :
Home / Transportasi / Pelabuhan
Jumat, 01 Desember 2017 19:10

Freight Rute Belawan Diprediksi Naik Hingga 20%

Aidikar M. Saidi
(bumn.go.id)

JAKARTA - Ongkos angkut (freight) rute Belawan diprediksikan naik sekitar 15% hingga 20%, setelah PT Pelabuhan Indonesia I (Persero) melakukan penyesuaian tarif OPT (Ongkos Pelabuhan Tujuan) terhadap petikemas domestik mulai Desember 2017.

Berdasarkan sosialisasi dari Pelindo I, tarif OPT akan dinaikkan sekitar 10%-11%, demikian juga tarif dasar penumpukan petikemas akan dinaikkan.

Tidak hanya itu, masa Free Time Storage dipersingkat menjadi 24 jam, dari sebelumnya 3 hari. Sekarang menjadi 24 jam dari waktu turunnya petikemas dari dan ke kapal.

Apabila lewat dari 24 jam, akan dikenakan Masa 1 (24 jam berikutnya) dikenakan 200% dari tarif dasar penumpukan.

Adapun Masa 2 (24 jam berikutnya) dibebankan tarif 300%, Masa 3 (24 jam berikutnya) 400%, Masa 4 (24 jam berikutnya) 700%. Intinya aturan itu diberlakukan sama dengan petikemas Internasional.

Direktur Bisnis Pelindo I Syahputra Sembiring ketika dikonfirmasikan hal tetsebut membenarkan bahwa penyesuaian tarif itu rencananya diberlakukan bulan ini (Desember).

Dengan penyesuaian tarif itu, Pelindo I berjanji akan meningkatkan pelayanan, dimana telah dipesan tambahan alat baru dan sudah ditandatangani kontrak pembuatannya membutuhkan 18 bulan di pabriknya di Eropa.

Alat baru bongkar muat petikemas itu berupa dua unit container crane (CC) dan empat unit rubber tyred gantry crane (RTG) untuk mempercepat pelayanan di Terminal Peti Kemas Domestik Belawan (TPKDB). Sebelum pembelian alat itu, sudah disewa dua unit HMC dan enam unit unit reach stacker (RS).

Keluhan Operator Kapal 

Sejumlah operator kapal petikemas di Jakarta dan Surabaya mengharapkan Pelindo I meningkatkan produktivitas bongkar muat petikemas mengingat kapal yang beroperasi ke Belawan berkapasitas besar yakni hingga 3.000 TEUs.

Sebagai contoh, untuk kapal kapasitas 1.000 TEUs berarti total jumlah bongkar dan muat 2.000 TEUs. Di Belawan bongkar muat dibatasi hanya 1.500 TEUs (bongkar 1.000 dan muat 500).

Artinya petikemas empty selalu sisa 500 TEUs setiap pengapalan, sehingga akhirnya empty menumpuk menjadi beban biaya perusahaan pelayaran.

Saat ini saja terjadi pembatasan muatan dari dan ke Belawan. Kapal dari Jakarta hanya bisa mengangkut 1.000 TEUs dan memuat ke Jakarta dari Belawan hanya 500 TEUs.

Padahal kapasitas angkut kapal sekarang sudah mencapai 3.000 TEUs, tetapi kemampuan terminal maksimal hanya 1.000 TEUs.

Menanggapi masalah ini, Syahputra Sembiring mengatakan muatan kapal yang benar adalah kapasitas 2.000 TEUs.

"Karena sudah ada kesepakatan dengan semua pelayaran domestik terkait jadwal window masing-masing kapal, maka dilakukan penyesuaian, bukan pembatasan, untuk penanganan bongkar muatnya. Supaya tidak mengganggu jadwal window kapal lain," ujarnya.

Menurut dia, muatan balik yang kecil, hanya 500 TEUs, karena memang belum ada muatan balik dari hinterland-nya, sehingga rata-rata petikemas kosong.

"Untuk meningkatkan kapasitas, telah diantisipasi dengan mengalihkan kegiatan domestik ke dermaga internasional dan dermaga multipurpuse di Ujung Baru," ungkap Syahputra. (hlz/hlz)


Komentar