Jumat, 15 Desember 2017 | 03:59 WIB

Kunjungi di social media :
Home / Logistik / Freight/Cargo
Senin, 04 Desember 2017 11:51

Gateway Container Line Semarang Beberkan Kinerja 2017 dan Rencana 2018

Ire Djafar
Kepala Cabang GCL Semarang M. Arifin (ketiga dari kanan). (translogtoday/ire)

SEMARANG -

Gateway Container Line (GCL) Cabang Semarang melakukan gebrakan menjelang akhir tahun ini dengan memperluas layanan konsolidasi (consol) impor rute Busan (Korea) Semarang. Selama ini, GCL Semarang lebih mengandalkan consol impor Singapura dan Hong Kong.

Seiring dengan perluasan layanan tersebut, Kepala Cabang Semarang Gateway Container Line M. Arifin mengungkapkan GCL Semarang menargetkan pendapatan tumbuh 10% pada tahun depan.

"2018 akan menjadi tahun penuh tantangan. Kita akan menghadapi sejumlah event besar dan hari libur yang cukup banyak. Menjelang akhir tahun, misalnya, Natal akan jatuh pada Senin. Tahun Baru juga akan jatuh pada Senin yang disertai dengan cuti bersama dan liburan panjang sekolah," jelas Arifin kepada Translogtoday di kantor GCL Semarang, Kamis (30/11).

Dia optimistis bisa merealisasikan target tersebut, kendati menurutnya sejumlah hal akan menjadi tantangan tersendiri. “Kami berpegang pada prinsip dan filosofi GCL serta strategi yang inovatif, saya sangat optimistis target itu bisa dicapai,” ujarnya. 

Menurut dia, kegiatan politik, seperti pemilihan kepala daerah (Pilkada) secara serentak, juga akan menjadi tantangan yang dapat mempengaruhi semua kegiatan bisnis, termasuk trading dan forwading.

"Kegiatan trading dan forwarding melibatkan banyak pihak. Ada faktor eksternal yang tidak bisa kita kendalikan. Akan tetapi, dengan prinsip dan filosofi kerja keras, kerja cerdas, kerja iklas, dan kerja tuntas, serta strategi yang kreatif dan inovatif, kami yakin bisa mengatasi berbagai tantangan itu," tegasnya. 

Dampak Bisnis Online

Tantangan lain yang masih akan dihadapi adalah terkait dengan tren bisnis online atau e-commerce, yang sudah merambah ke berbagai sektor terutama dalam aktivitas belanja.

Sebagai perusahaan yang terkait dengan jasa pengiriman, kata Arifin, tentu harus memiliki stategi yang tepat dan inovatif dalam mengantisipasi berbagai tantangan tersebut. Hal tersebut merupakan tantangan khusus yang harus dihadapi oleh pelaku bisnis fowarding dan jasa pengiriman di Jawa Tengah.

Menurut Arifin, Jawa Tengah memiliki karakter tersendiri. Wilayah diapit oleh dua kawasan yang memiliki dua bandar udara besar dan dua pelabuhan besar. Di sebelah timur ada Bandara Juanda dan Pelabuhan Tanjung Perak dan sebelah barat ada Bandara Soekarno-Hatta dan Tanjung Priok.

“Keempatnya merupakan gerbang utama aktivitas perdagangan ekspor impor, yang mana ada kecendrungan pemilik barang memilih keempatnya dalam bongkar muat barang. Sebagian barang dari Jawa Tengah lebih memilih keempatnya daripada di Pelabuhan Tanjung Emas atau Bandara Ahmad Yani," jelas Arifin. 

Dia mengatakan industri di Jateng lebih terbatas dibandingkan dengan Jawa Timur dan Jawa Barat yang beragam. Komoditas dominan Jateng adalah furnitur serta produk UKM dan industri rumah tangga.

Meskipun industri garmen dengan volume yang cukup besar juga ada, Akan tetapi ekspor garmen bisanya menggunakan term of trade FOB (free on board) dimana pembeli di luar negeri yang menentukan perusahaan pengirimannya. Tantangan-tantangan ini, menurut Arifin, akan menjadi faktor kunci dalam memilih strategi.  

"Tidak ada cara lain. Kita harus memiliki strategi yang kreatif dan inovatif," tegas Arifin dengan memberikan contoh bagaimana GCL Semarang mengembangkan pasar hingga ke pelosok Jateng serta bagaimana mendorong industri menengah kecil untuk meningkatkan produksi sehingga bisa diekspor.
GCL siap memfasilitasi, baik mencari buyer di luar negeri maupun mengurus izin dan dokumen ekspor bagi mereka yang menghadapi kesulitan dengan hal tersebut.

Subagyo, CEO Link Pasipik Group yang merupakan holding company GCL, mengamini perlunya strategi yang inovatif dan kreatif sebagaimana yang dijelaskan Arifin.

Namun, di samping kedua hal tersebut, Subagyo menggarisbawahi pentingnya peningkatan produktivitas sumber daya manusia (human productivity) guna mencapai target tersebut. 

Dia yakin, target tersebut akan tercapai mengingat industri di Jateng sedang bertumbuh, menyusul berpindahnya sejumlah pabrik dari wilayah lain ke Jawa Tengah karena memiliki biaya produksi lebih kompetitif, apalagi makro ekonomi 2018 cukup menjanjikan. 

Menurut data Kementerian Keuangan, target pertumbuhan ekonomi Indonesia 2018 mencapai 5,4% dengan tingkat inflasi yang cukup stabil yakni 3,5%, serta nilai tukar yang cukup terjaga di kisaran Rp13.400 per dolar AS. 

Pengembangan Layanan

Kendati kegiatan konsolidasi dengan menangani kargo LCL (less than container load) menjadi bisnis utama GCL, mulai 2018 GCL Semarang juga akan fokus melayani kargo FCL (full container load).

Menurut analisa laporan operasi GCL Semarang, pendapatan dari segmen FCL tumbuh pesat dua tahun terakhir. Pada 2016, pendapatan operasi dari FCL tumbuh 588,7% dan pada 2017 tumbuh lebih fantastis, mencapai 4.257,8%

Tingkat pencapaian terhadap target tahunan hingga Oktober 2017, segmen FCL sangat tinggi, mencapai 221% dari target, lebih tinggi dari tingkat pencapaian segmen consol, kendati secara nominal masih lebih rendah. 

"Memang secara nominal, masih lebih kecil dibanding profit dari kargo consol. Sebab core business kami memang di kargo consol. Akan tetapi, tren pertumbuhan FCL sangatlah menjanjikan. Ini tentu akan menjadi pertimbangan bagi kami dalam mengoptimalkan layanan FCL tahun depan," tegasnya.

Secara keseluruhan, hingga Oktober, GCL Semarang sudah mencapai 91% dari target profit 2017.  "Masih ada dua bulan lagi (November dan Desember). Kami sangat yakin target profit 2017 mencapai 100%, bahkan lebih,” ungkap Arifin.

Dia menjelaskan, sejak dibuka pada 2015, GCL Cabang Semarang selalu mencatat rapor biru (keuntungan). Sedangkan tingkat pencapaian tahunan, laba bersih 2017 mencapai 134.45% dari laba 2016. (hlz/hlz)


Komentar