Senin, 22 Oktober 2018 | 17:15 WIB

Kunjungi di social media :
Home / Korporasi / Aksi Korporasi
Jumat, 08 Desember 2017 19:20

IPC Gencar Perbarui Fasilitas Antisipasi Fenomena Disruption

Ire Djafar
Direktur Utama IPC Elvyn G. Masassya (IPC/translogtoday)

JAKARTA -

PT Pelabuhan Indonesia II (Persero)/IPC terus menata dan memperbaharui fasilitas kepelabuhanan eksisting di seluruh aspek guna meningkatkan pelayanan kepada pengguna jasa dan nilai tambah  perseroan.

Direktur Utama IPC Elvyn G. Masassya mengatakan, upaya penataan dan perbaruan fasilitas itu, mulai dari program Inaportnet, memperkenalkan konsep Integrated Chain Port, dan usaha menjadikan Pelabuhan Tanjung Priok sebagai transhipment port.

IPC juga mengaplikasikan Non-Peti Kemas dan Peti Kemas Terminal Operating System (NPK dan PK TOS), mempermudah monitoring dan navigasi lalu lintas melalui sistem Vessel Traffic System (VTS), Marine Operating System (MOS),

“Pelayanan transaksi keuangan juga ditingkatkan melalui program Cash Management System (CMS), untuk mempermudah pengguna jasa dalam hal melakukan transaksi jasa dengan IPC,” kata Elvyn saat puncak acara HUT IPC ke-25 di Jakarta, Jumat (8/12).

Melalui CMS, tutur Elvyn, transaksi keuangan yang tadinya dilakukan secara manual atau cash menjadi terintegrasi dengan sistem (cashless), seperti transaksi payroll, accounting for taxes, billing payments, bank reconciliation dan lain-lain.

Selain itu, ungkap Elvyn, IPC mempersiapkan peluncuran anak usaha investasi yakni PT Pelabuhan Indonesia Investama, serta pelaksanaan Penawaran Saham Perdana (IPO) PT Jasa Armada Indonesia (JAI).

Public expose JAI telah dilakukan pada akhir November 2017, setidaknya maksimum 30% dari jumlah keseluruhan saham yang disetor dan dicatat untuk diperdagangkan di Bursa Efek di Indonesia.

“Upaya ini guna mendorong pertumbuhan dan ekspansi bisnis, meningkatkan akses permodalan, serta memberikan competitive advantage bagi perseroan,” ujar Elvyn. 

Antisipasi Fenomena Disruptiuon 

Dia mengatakan, IPC harus mempersiapkan kemungkinan masuknya fenomena disruption ke area kepelabuhanan, serta secara konsisten berkomitmen memberi kontribusi bagi pemerataan pembangunan perekonomian nasional.

“Menuju 2018, kita dihadapkan pada fenomena ‘disruption’ atau yang dapat didefinisikan sebagai perubahan maupun revolusi yang tengah terjadi di sendi-sendi kehidupan masyarakat,” ujarnya mengutip buku Rhenald Kasali, yang menyebutkan disruption dimotori oleh perkembangan teknologi informasi.

Dalam kesempatan itu, dia mengungkapkan IPC berterima kasih kepada seluruh pengguna jasa dan stakeholders yang telah bersama IPC selama 25 tahun membangun negeri.

(hlz/hlz)


Komentar