Senin, 22 Oktober 2018 | 17:27 WIB

Kunjungi di social media :
Home / Transportasi / Pelabuhan
Minggu, 17 Desember 2017 15:34

Penumpukan Barang PLN Ganggu Pelayanan Petikemas di Pelabuhan Makassar

Aidikar M. Saidi
Tumpukan barang proyek PLN di TPM. (translogtoday/istimewa)

JAKARTA -

Pelayanan keluar masuk petikemas di Pelabuhan Makassar terganggu setelah PT Pelabuhan Indonesia IV (Persero) mengalihkan fungsi sebagian lapangan penumpukan petikemas untuk menimbun barang proyek PLN.

"Pelayanan delivery petikemas di TPM sangat terganggu karena container yard digunakan untuk menimbun barang proyek PLN Tenaga Bayu," ungkap Ketua Asosiasi Logistik dan Forwarding Indonesia (ALFI) Sulawesi Selatan dan Barat (Sulselbar) Syarifuddin Ipho kepada Translogtoday, Minggu (17/12).

Dia mengatakan lapangan Terminal Petikemas Makassar (TPM) saat ini telah berubah atau beralih fungsi. Pasalnya, sebagian lahan CY yang sangat terbatas disewakan oleh Pelindo IV untuk menimbun kargo barang proyek PLN Tenaga Bayu selama beberapa bulan dengan alasan proyek pemerintah.

"Dengan CY yang ada saja pelayanan selama ini tidak maksimal untuk bongkaran dan memuat petikemas dari dan ke kapal. Demikian juga pelayanan petikemas untuk delivery sangat lambat," tuturnya.

Syarifuddin mengatakan lahan TPM yang bercampur antara kargo dan petikemas itu menyebabkan pelayanan semakin kacau.

Menurut dia, DPW ALFI sudah menyurati Pelindo IV Cabang Makassar dan Otoritas Pelabuhan (OP) Makassar, tetapi tidak digubris atau ditolak.

 

Setelah surat ALFI ditolak, kata Syarifuddin, kapal datang dan barang dibongkar pada 8 November dan kami surati menolak keras. “Baru kami diundang rapat oleh OP dan Pelindo IV pada 9 November, sesudah barang terbongkar,” ujarnya.

Penugasan

Direktur Fasilitas dan Peralatan Pelindi IV Farid Padang menjelaskan, sebagian lahan TPM digunakan untuk menimbun kargo ukuran besar karena fungsi penugasan untuk proyek strategis.

“Jangan salah, kargo dengan ukuran besar itu hanya bisa ditimbun di dermaga TPM yang siap diangkut keluar karena luasan akses jalannya memadai,” kata Farid.

Menurut dia, barang itu juga tidak bisa ditampung di terminal lain. Selain itu, sifatnya wajib dari pemerintah dan Pelindo IV diminta memfasilitasi angkutan tersebut untuk sementara. “Namun kami sudah antisipasi pengaturan blok tumpukan petikemas yang lain," ujarnya.

General Manager Pelindo IV Cabang TPM Yosef Benny Rohy menjelaskan, barang itu merupakan proyek strategis nasional yakni berupa listrik Tenaga Bayu di lokasi Jeneponto.

Penampungan barang proyek itu, tutur Yosef, sudah mendapat persetujuan dari OP Makassar melalui surat dan telah dirapatkan dengan seluruh stakeholder yaitu OP, TPM, Indonesian National Shipowners Association (INSA), Asosiasi Perusahaan Bongkar Muat Indonesia (APBMI) dan ALFI.

Yosef mengatakan, lahan TPM dipilih karena tidak ada satu pun area di Pelabuhan Makassar yang dapat menampung dan dilakukan bongkar muat barang itu, yang diperkuat dengan hasil survei oleh konsultan Australia.

Menurut Yosef, hingga saat ini tidak ada hambatan operasional di lapangan karena TPM sudah menambah personil sebanyak 24 orang untuk pengaturan lalulintas kendaraan.

Dia menegaskan, kegiatan delivery dan receiving di lapangan tidak ada masalah, begitu pun bongkar muat petikemas berjalan lancar dan tidak ada antrean kapal. "Karena kami bersama INSA telah menerapkan windows system," tuturnya.

Seluruh prosedur, lanjut Yosef, telah sesuai dengan aturan yaitu adanya persetujuan OP, pemberitahuan ke Bea dan Cukai, pesetujuan dari Gubernur dan Walikota Makassar.

Menurut dia, masalah ini agak blunder karena sewaktu rapat di OP, ALFI pada prinsipnya mendukung walaupun dalam surat yang ditujukan tidak rekomendasi. “Namun setelah dilakukan rapat bersama ALFI pada prinsipnya mereka mendukung,” ujarnya.

(hlz/hlz)


Komentar