Sabtu, 21 Juli 2018 | 22:24 WIB

Kunjungi di social media :
Home / Transportasi / Pelabuhan
Selasa, 19 Desember 2017 05:33

Kapal Antre Sebulan Bongkar Batubara di Dermaga PLTU Suralaya, Ada Apa?

Aidikar M. Saidi
PLTU Suralaya, Cilegon, Banten.

JAKARTA -

PT Indonesia Power dinilai telah merugikan perusahaan pelayaran karena membiarkan kapal antre hampir satu bulan hanya untuk mendapatkan pelayanan bongkar batubara di dermaga PLTU Suralaya, Cilegon, Banten.

MV Suryawati, kapal tipe Panamax milik PT Arpeni Pratama Ocean Line (APOL) Tbk yang mengangkut 65.000 ton batubara, yang antre sejak 3 Desember 2017 hingga kini belum juga bisa membongkar muatannya di PLTU Suralaya.

Jadwal pelayanan kapal itu terus dimundurkan oleh Indonesia Power tanpa ada alasan yang jelas dan memaksakan kapal lain masuk lebih dulu, sehingga produktivitas bongkar menjadi rendah.

Penyebab pemunduran jadwal memang dipengaruhi faktor cuaca yang kurang bersabahat pada musim hujan ini, ditambah alat bongkar yang sering rusak. Akan tetapi hal ini biasanya hanya berdampak pemunduran jadwal 1-2 hari. Tidak diketahui jelas alasan sebenarnya masalah ini.

Kalangan pengusaha pelayaran yang merasa dirugikan oleh Indonesia Power menyatakan, seharusnya sudah menjadi kewajiban dari pengelola pelabuhan untuk memaksimalkan daya bongkar, serta memahami mengapa masalah itu bisa terjadi.

Informasi yang dihimpun Translogtoday, perusahaan pelayaran yang mengoperasikan kapal batubara bongkar di PLTU Suralaya adalah PT Andhika Lines, PT Bahtera Adiguna (anak perusahaan PLN), PT Arpeni Pratama Ocean Line (APOL) Tbk, dan PT Jaya Samudra Karunia  (JSK).

Kerugian Besar

Kerugian perusahaan pelayaran akibat antre bongkar batubara di PLTU tersebut diperkirakan paling sedikit US$10.000 per kapal per hari atau lebih dari US$300.000 per kapal dalam sebulan.

Berdasarkan jadwal Jetty II Desember 2017-Januari 2018 PT Indonesia Power PLTU Unit Pembangkit (UP) Suralaya, ada 10 kapal tipe Panamax kapasitas angkut masing-masing 65.000 ton.

Lima kapal di antaranya antre menunggu bongkar yakni MV Karunia (dua trip), MV Arimbi Baruna, MV Permata Caroline, MV Suryawati dan Kartini Samudra.

Sementara, tiga kapal mendapat prioritas tanpa harus antre membongkar batubara yakni MV Andhika Nareswari (dua trip), MV Andhika Paramesti dan MV Andhika Kanishka.

Kemudian untuk jadwal Januari 2018 ada enam kapal, empat kapal di antaranya harus antre menunggu bongkar yakni MV Kartini Samudera, MV Karunia, MV Arimbi Baruna dan MV Permata Caroline.

Adapun dua kapal lainnya bisa langsung bongkar tanpa antre, masing-masing MV Andhika Paranesti dan MV Andhika Kanishka.

Berdasarkan informasi dari perusahaan pelayaran yang mengoperasikan kapal batubara ke PLTU Suralaya, selama ini kapal harus antre untuk mendapatkan pelayanan bongkar batubara karena Indonesia Power selalu memprioritaskan kapal-kapal tertentu.

Tanggapan Arpeni

Komisaris Utama PT Arpeni Pratama Ocean Line (APOL) Tbk, yang juga mantan Ketua Umum DPP INSA Oentoro Surya, mengatakan pihaknya tentu dirugikan akibat masalah itu. "Tapi mau diapakan ini semua planning yang tidak benar," katanya kepada Translogtoday, Senin (18/12) malam.

Umumnya, lanjut Oentoro, pembangkit harus punya kargo di stock pile minimal 20 hari. Namun Indonesia Power berbeda sekali antara TOD (terms of discharge) dan CQD (custom quick discharge), bahkan terkesan sesukanya sehingga kapal menjadi seperti floating storage.

"Satu lagi, biasanya pelabuhan melayani kapal seharusnya first come first serve. Tapi di sana lain daripada yang lain. Semakin ditanya malah mau apa, tunggu saja," keluh Oentoro.

(hlz/hlz)


Komentar