Selasa, 23 Januari 2018 | 07:00 WIB

Kunjungi di social media :
Home / Regulasi / Maritim
Selasa, 26 Desember 2017 11:26

Peran Perempuan Penting Wujudkan Indonesia Poros Maritim Dunia

Ire Djafar
(translogtoday/ire)

JAKARTA -

Peran perempuan di industri kemaritiman nasional dinilai penting dan perlu ditingkatkan guna mewujudkan visi Indonesia sebagai Poros Maritim Dunia, seperti dicanangkan oleh Pemerintahan Joko Widodo-Jusuf Kalla.

Menurut DR. Chandra Motik Yusuf. SH. Msc, Ketua Umum Chandra Motik Maritime Centre (CMMC) dan Ketua Umum Women In Maritime Indonesia (WIMA), peran perempuan perlu dimaksimalkan untuk membangun sektor maritim Indonesia yang kuat.

"Peran perempuan di segala sektor sangat penting, termasuk dalam membangun industri kemaritiman kita. Laut sejatinya bukan hanya milik kaum lelaki, perempuan juga bisa berperan penting," ungkapnya dalam acara Meet and Greet: Indonesia Women Talk 2017 yang digelar WIMA bertepatan dengan Hari Ibu 22 Desember.

Selama ini, tutur Motik, ship atau kapal disebut juga dengan she (panggilan untuk perempuan), maka laut juga adalah she.

“Maka wajar jika para wanita berperan di bidang yang terkait dengan laut, seperti sebagai nakhoda, pengusaha pelayaran, syahbandar, pengelola pelabuhan, bahkan pekerjaan atau profesi sehari-hari yang selalu berhubungan dengan laut," ujarnya.

Sebagai contoh, lanjut Motik, dirinya juga terjun di bidang kemaritiman sebagai praktisi hukum dan pemerhati kemaritiman di Tanah Air.

Motik yang sudah lebih 30 tahun menggeluti hukum dunia maritim ini menjelaskan bahwa kaum perempuan dari masa ke masa terus mengembangkan potensinya hingga setara dengan laki-laki. Hal ini antara lain dibuktikan dengan keberadaan CMMC dan WIMA.

Srikandi Maritim 

Dalam Meet & Greet bertema Maritim Masa Kini Dan Pergerakan Kaum Perempuan tersebut, Motik menghadirkan para para srikandi berprofesi di berbagai bidang kemaritiman. Mereka datang dari berbagai daerah di Indonesia. 

WIMA menghimpun para wanita atau srikandi yang semuanya sangat berpotensi untuk membicarakan dunia kemaritiman, termasuk berbagi pengalaman dan mencari solusi atas berbagau tantangan, serta harapan mereka bagi kejayaan maritim Indonesia.

Sejarah membuktikan, ungkap Motik, bahwa wanita sejak masa dulu memang memiliki catatan yang cukup menakjubkan dalam bidang maritim.

Untuk Indonesia, ada Laksamana Malahayati yang berjuang menggunakan sarana kapal laut. Ada pula putri remaja Belanda bernama Laura Dekker, yang mengukir sejarah pada 2012 yaitu melakukan pelayaran dengan kapal kecil selama 1 tahun di laut bebas, dan Kay Cotte pelaut wanita Australia yang berlayar sendirian selama 189 hari. 

Beberapa nara sumber pada acara tersebut, di antaranya Carmelita Hartoto (Direktur Utama PT Andhika Line dan Ketua Umum Indonesia Nation Shipowners’ Association (INSA, Capt. Agustin Nurul Fitriyah (nakhoda kapal) dan Anita Puji Utami (pimpinan perusahaan galangan kapal).

Motik mengharapkan penyelenggaraan acara itu dapat ikut memajukan dan memberdayakan perempuan di industri maritim. Sebab hingga saat ini banyak orang berpikir bahwa pekerjaan dan profesi bidang maritim hanya milik laki-laki. 

"Tentu kita, menyadari sampai saat ini masih sedikit kita temukan perempuan yang bekerja di dunia maritim, tetapi hal itu bukanlah sebagai indikator bahwa kiprah perempuan di bidang maritim sedikit. Akan tetapi masih banyak lagi wanita yang berprestasi gemilang di dunia maritim," ungkapnya.

Menurut Motik, jumlah perempuan yang menekuni bidang maritim setiap tahun terus meningkat. Ini terlihat dari data anggota WIMA yang terus bertambah, dari berbagai macam profesi, baik swasta maupun pemerintahan yang terkait dengan kemaritiman. 

(hlz/hlz)


Komentar