Senin, 22 Oktober 2018 | 17:53 WIB

Kunjungi di social media :
Home / Transportasi / Pelabuhan
Kamis, 28 Desember 2017 08:43

Bongkar Batubara PLTU Suralaya Terganggu, Ini Penjelasan PT Indonesia Power

Aidikar M. Saidi
KSOP Merak rapat bersama Indonesia Power unit PLTU Suralaya (translogtoday/ams)

MERAK, Banten -

PT Indonesia Power menyatakan terganggunya kegiatan bongkar batubara di PLTU Suralaya di Cilegon, Banten, dominan akibat cuaca buruk.

"Beberapa bulan terakhir memang produktivitas bongkar batubara sangat rendah akibat cuaca buruk," ujar Joko Widodo, Manajer Perencanaan dan Inventori PT Indonesia Power PLTU Suralaya kepada translogtoday di Merak, Rabu (27/12).

Cuaca buruk itu diprediksi terus berlanjut hingga Februari 2018 mendatang, sehingga produktivitas akan terganggu dalam dua bulan ke depan.

Dalam cuaca saat ini, kata Joko, produktivitas bongkar hanya mampu dilakukan sekitar 600 – 700 ton per jam. Padahal saat cuaca normal, biasanya untuk membongkar batubara dari kapal kapasitas angkut 65.000 ton hanya butuh waktu 4 – 6 hari.

Bahkan, lanjutny, bila kecepatan angin di atas 16 knot otomatis alat untuk kegiatan bongkar batubara terhenti secara otomatis.

Dia menjelaskan hal tersebut bersama Abdul Azis, Kepala Kantor Syahbandar dan Otoritas Pelabuhan (KSOP) Merak serta pejabat KSOP lainnya.

Menurut Joko, hingga kini masih terdapat tiga kapal lagi yang antre menunggu bongkar di PLTU Suralaya.

Ketiga kapal itu adalah MV Suryawati yang tiba sejak 3 Desember hingga kini masih menunggu bongkar, MV Karunia tiba 24 Desember dan MV Andhika Nareswari tiba 22 Desember.

Adapun terkait dengan masalah MV Suryawati, kapal milik PT Arpeni Pratama Ocean Line (APOL) Tbk yang mengangkut 67.000 ton batubara, Joko menjelaskan bahwa kapal itu subkontrak PT Bahtera Adiguna (BAG), anak perusahaan PLN.

"Jadi kedatangan kapal tersebut tidak memberitahukan kepada kami, baik dari PT Arpeni maupun PT BAG sebelumnya," kata Joko.

Berdasarkan Rapat Koordinasi dengan PT BAG mewakili perusahaan pelayaran, Indonesia Power PLTU Suralaya dan perusahaan pemasok batubara kapal MV Suryawati itu disepakati untuk dibongkar 16 Desember. Kapal itu sudah masuk lebih cepat tanpa ada konfirmasi kepada PLTU Suralaya.

Saran KSOP

Sementara itu, Kepala KSOP Merak Abdul Azis menyarankan kepada PLTU Suralaya untuk memindahkan pembongkaran kapal yang antre atau terkatung-katung terlalu lama itu ke pelabuhan terdekat agar tidak merugikan perusahaan pelayaran dan pemilik muatan.

PT Pelabuhan Indonesia II Cabang Ciwandan bahkan sudah menyiapkan dermaga dan fasilitas crane untuk membongkar batubara serta 50 unit truk untuk mengangkut lewat darat ke PLTU Suralaya.

Joko mengatakan PLTU Suralaya tidak keberatan memindahkan kapal untuk membongkar ke pelabuhan lain. "Yang punya kewenangan untuk memutuskan pemindahan kapal tersebut adalah perusahaan pelayaran dan perusahaan pemasok atau pemilik muatan," tuturnya.   &n (hlz/hlz)


Komentar