Sabtu, 21 Juli 2018 | 22:25 WIB

Kunjungi di social media :
Home / Transportasi / Pelayaran
Selasa, 02 Januari 2018 22:19

Sebulan Antre Bongkar di PLTU Suralaya, Operator MV Suryawati Rugi Rp4 Miliar

Aidikar M. Saidi
MV Suryawati (repro)

JAKARTA -

MV Suryawati genap satu bulan antre menunggu bongkar di PLTU Suralaya, Cilegon, Banten, sehingga perusahaan pelayaran yang mengoperasikan kapal batubara itu rugi sedikitnya US$10.000 per hari atau total sekitar Rp4 miliar.

Sementara itu solusi untuk pemindahan kapal tersebut ke pelabuhan lain masih terganjal soal biaya tambahan.

Joko Widodo, Manajer Perencanaan dan Inventori PT Indonesia Power PLTU Suralaya, mengakui MV Suryawati milik PT Arpeni Pratama Ocean Line (APOL) Tbk itu masih menunggu karena MV Karunia milik PT JSK Lines belum selesai dibongkar.

"MV Suryawati belum bongkar karena MV Karunia belum selesai akibat gangguan cuaca atau kecepatan angin cukup tinggi di perairan Suralaya," ujarnya kepada Translogtoday ketika dikonfirmasi mengenai hal tersebut, Selasa (2/1) malam.

Joko mengatakan gangguan cuaca itu mengakibatkan kelambatan bongkar, sehingga kini ada dua kapal lagi yang antre menunggu bongkar di PLTU Suralaya, termasuk MV Suryawati.

MV Suryawati mengangkut 67.000 ton batubara tiba di PLTU Suralaya sejak 3 Desember 2017 dan hingga kini masih terkatung-katung menunggu bongkar.

Semula kapal tersebut akan dipindahkan ke Pelabuhan Ciwandan setelah PT Pelabuhan Indonesia II Cabang Banten menawarkan solusi dan fasilitas dermaga untuk tanggal 25 Desember 2017, menyiapkan peralatan bongkar dan truk angkutan batubara lewat darat ke PLTU Suralaya.

Terganjal Biaya 

Namun solusi untuk memindahkan kapal itu terganjal tambahan biaya angkutan darat yang sampai kini belum mendapatkan persetujuan dari PT Bahtera Adiguna (BAG), anak perusahaan PLN yang mendapat kontrak angkutan batubara itu. Adapun PT APOL hanya sebagai sub-kontraktor.

"Kami memberikan solusi untuk memindahkan kapal tersebut semata-mata untuk menghindari antrean kapal terlalu lama, sehingga tidak merugikan perusahaan pelayaran," ujar Armen Amir, General Manager Pelindo II Cabang Banten.

Kapal tipe Panamax milik APOL itu mengalami kerugian besar akibat antrean menunggu bongkar sekitar US$10.000 per hari jadi kerugiannya hingga hari ini sudah mencapai US$300.000 atau sekitar Rp4 miliar.

Kalangan pengusaha pelayaran menyebutkan kerugian itu sebagai akibat monopoli melalui penunjukan langsung PT Indonesia Power kepada PT BAG selaku anak perusahaan PLN dalam melaksanakan angkutan batubara ke PLTU seluruh Indonesia.  (hlz/hlz)


Komentar