Selasa, 23 Januari 2018 | 07:04 WIB

Kunjungi di social media :
Home / Transportasi / Pelabuhan
Jumat, 05 Januari 2018 19:42

Teluk Bayur Kewalahan Layani CPO, Pelindo II Segera Bangun Terminal Baru

Aidikar M. Saidi
Pelabuhan Teluk Bayur, Padang

PADANG -

Terminal curah cair di Pelabuhan Teluk Bayur, Padang, mulai kewalahan melayani kapal muatan crude palm oil (CPO) karena sudah melewati kapasitas tampung, sehingga butuh tambahan terminal baru.

PT Pelabuhan Indonesia II (Persero) dinilai terlambat mengantisipasi dan baru merencanakan pembangunan fasilitas baru untuk mengimbangi pesatnya pertumbuhan throughput CPO di pelabuhan tersibuk di Sumatera Barat itu.

Kini kondisi fasilitas terminal minyak sawit mentah yang tersedia sudah tidak mampu lagi melayani dan menampung pengapalan ekspor dan pengapalan domestik.

Throughput pengapalan CPO sudah mencapai rata-rata 2,5 juta ton per tahun, sedangkan kapasitas tampung Terminal Curah Cair di Pelabuhan Teluk Bayur hanya mampu menampung 2 juta ton per tahun.

"Karena itu, Pelindo II segera membangun terminal curah cair baru untuk menampung arus CPO yang semakin meningkat," ujar Fauzi, Deputy General Manager Pelindo II Cabang Pelabuhan Teluk Bayur kepada Translogtoday, Jumat (5/1).

Bagi Pelabuhan Teluk Bayur, CPO merupakan komoditas andalan dan jumlah throughput komoditas itu terbesar ketiga setelah Pelabuhan Belawan dan Dumai.

Menurut Fauzi, penambahan fasilitas terminal curah cair tersebut akan berlokasi di Dermaga Bungus dengan kapasitasnya 1 juta ton per tahun.

Beroperasi 2019 

Pembangunan terminal itu segera ditenderkan dan pembangunannya akan dimulai pada awal tahun ini sehingga diharapkan bisa beroperasi pada 2019.

Studi Penentuan Lokasi Pelabuhan CPO Ekspor dari Wilayah Sumatera Tengah oleh Teknik Perkapalan Fakultas Teknologi Kelautan ITS Surabaya menyebutkan, CPO merupakan salah satu komoditas ekspor utama nonmigas Indonesia, khususnya wilayah Sumatera Tengah (Sumatera Barat, Riau, dan Jambi).

Selain untuk ekspor, CPO yang dihasilkan di wilayah Sumatera Tengah digunakan sebagai bahan baku pembuatan minyak goreng untuk konsumsi dalam negeri.

Selama ini pengangkutan CPO dilakukan melalui dua jalur, yaitu jalur darat dengan menggunakan truk tangki pengangkut CPO dan jalur laut yang menggunakan kapal-kapal pengangkut CPO.

Untuk jalur darat biasanya menggunakan jalan Lintas Sumatera, sedangkan jalur laut dengan memanfaatkan beberapa pelabuhan utama di kawasan Sumatera Tengah, antara lain Pelabuhan Dumai dan Pelabuhan Teluk Bayur sebagai pintu keluar untuk pengiriman CPO.

Untuk pengangkutan antar pulau diarahkan ke beberapa kota di Pulau Jawa, sedangkan tujuan ekspor ke India, Pakistan, Bangladesh, Malaysia, Afrika, Jerman, Belanda, Singapura, dan China, dengan jumlah permintaan yang cukup tinggi.

 

(hlz/hlz)


Komentar