Minggu, 23 September 2018 | 05:38 WIB

Kunjungi di social media :
Home / Regulasi / Maritim
Selasa, 30 Januari 2018 13:44

Waspadai Cuaca Ekstrem, Kemenhub Terbitkan Maklumat Pelayaran

Translog Today

JAKARTA - Kementerian Perhubungan memperingatkan semua pihak, baik petugas di lapangan, operator kapal maupun pengguna jasa transportasi laut, agar mewaspadai cuaca ekstrem di perairan Indonesia dalam tujuh hari ke depan.

Peringatan itu tertuang dalam Maklumat Pelayaran Direktur Jenderal Perhubungan Laut Nomor 12/I/DN-18 tanggal 29 Januari 2018 tentang Waspada Bahaya Cuaca Ekstrem dalam Tujuh Hari ke Depan, yang ditandatangani oleh Direktur Kesatuan Penjagaan Laut dan Pantai Capt. Jhonny R. Silalahi.

"Maklumat Pelayaran memerintahkan kepada seluruh jajaran Ditjen Perhubungan Laut agar tetap mewaspadai adanya cuaca ekstrem dan gelombang tinggi yang masih terjadi di sebagian perairan Indonesia, khususnya dalam waktu tujuh hari ke depan," ujar Capt. Jhonny dalam siaran pers, Selasa (30/1).

Jajaran Ditjen Hubla yang dimaksud, terutama Kepala Syahbandar Utama, Kepala Kantor Kesyahbandaran dan Otoritas Pelabuhan (KSOP), Kepala Kantor Unit Penyelenggara Pelabuhan (UPP), Kepala Kantor Pelabuhan Batam, Kepala Pangkalan PLP dan Kepada Distrik Navigasi di seluruh Indonesia.

Berdasarkan hasil pemantauan Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG), dalam tujuh hari ke depan mulai 28 Januari hingga 3 Februari 2018 diperkirakan terjadi cuaca ekstrem dan hujan lebat di beberapa perairan di Indonesia dengan tinggi gelombang 4-7 meter.

Cuaca ekstrem dengan tinggi gelombang 4-6 meter dan hujan lebat akan terjadi perairan Selatan Jawa Tengah dan Jawa Timur, Samudera Hindia Selatan Jawa Tengah, Selat Bali Bagian Selatan, Selat Badung, Perairan Selat Sumbawa, Samudera Hindia Selatan NTT, Perairan Selatan Kupang-P. Rote, Laut Timor Selatan NTT, Peraiaran Kep Babar, Peraiaran Kep. Sermata, Laut Arafuru.

Sementara itu, tinggi gelombang antara 6-7 meter akan terjadi di Samudera Hindia Selatan Jawa Timur, Samudera Hindia Selatan Bali dan NTB.

Selalu Siaga

Direktur KPLP menginstruksikan seluruh syahbandar selalu siaga dengan melakukan pemantauan (up date) kondisi cuaca setiap hari melalui website www.bmkg.go.id serta menyebarluaskan hasil pemantauan kepada pengguna jasa.

"Apabila kondisi cuaca membahayakan keselamatan kapal, maka Syahbandar harus menunda pemberian Surat Persetujuan Berlayar (SPB) sampai kondisi cuaca di sepanjang perairan yang akan dilayari benar-benar aman", jelas Capt. Jhonny.

Seluruh operator kapal, khususnya nakhoda, juga diminta memantau kondisi cuaca sekurang-kurangnya 6 jam sebelum berlayar dan melaporkan hasilnya kepada Syahbandar saat mengajukan permohonan SPB.

Selama pelayaran di laut, nakhoda wajib melakukan pemantauan kondisi cuaca setiap 6 jam dan melaporkan hasilnya kepada Stasiun Radio Pantai (SROP) terdekat serta dicatatkan ke dalam log-book.

"Jika dalam pelayaran menemui cuaca buruk, kapal tersebut harus segera berlindung di tempat yang aman dan segera melaporkannya kepada Syahbandar dan SROP terdekat dengan menginformasikan posisi kapal, kondisi cuaca, kondisi kapal serta hal penting lainnya," jelas Capt. Jhonny.

Selanjutnya, kepada seluruh Kepala Pangkalan Penjagaan Laut dan Pantai (PLP) dan Kepala Distrik Navigasi untuk tetap mensiap-siagakan kapal-kapal Negara (Kapal Patroli/Kapal Perambuan) dan segera memberikan pertolongan jika sewaktu-waktu terjadi kecelakaan kapal. (hlz/hlz)


Komentar