Selasa, 25 September 2018 | 10:50 WIB

Kunjungi di social media :
Home / Transportasi / Pelabuhan
Kamis, 22 Februari 2018 14:52

Imbangi NPCT1, TPK Koja akan Pasang 3 Crane Super Post Panamax

Aidikar M. Saidi

JAKARTA - Terminal Petikemas (TPK) Koja segera mengganti tiga unit container crane (CC) dengan crane Super Post Panamax untuk meningkatkan produktivitas bongkar muat petikemas agar mampu bersaing dengan New Port Container Terminal (NPCT1).

PT Pelabuhan Indonesia II (Pelindo) dan Hutchison Ltd. Hong Kong sebagai pemegang saham TPK Koja mengganti tiga unit CC itu untuk mengimbangi NPCT1 yang kini memiliki peralatan canggih sehingga produktivitas bongkar muatnya mencapai 80 boks per jam per kapal.

Direktur Pembinaan Anak Perusahaan (PAP) Pelindo II Riry Syeried Jetta, yang juga Komisaris Utama TPK Koja, mengakui rencana penggantian CC itu ketika dikonfirmasi translogtoday.

"Memang benar dan pada tahun ini segera dimulai mempersiapkan sarana penunjang dan daya dukung untuk memasang penggantian peralatan baru di TPK Koja," ujarnya, Kamis (22/2).

Penggantian alat itu, menurut Riry, dilakukan terutama untuk mengakomodasi kebutuhan dan tuntutan pasar, seiring dengan semakin banyak kapal petikemas yang menyinggahi Pelabuhan Tanjung Priok berkapasitas besar dan membutuhkan produktivitas tinggi.

TPK Koja yang merupakan kerja sama operasi antara Pelindo II (52,12% saham) dan Hutchison Ltd melalui PT Ocean Terminal Petikemas, kini mengoperasikan tujuh unit CC dengan kemampuan jangkauan paling jauh 17 row sehingga produktivitasnya dinilai rendah dan tidak akan mampu bersaing dengan NPCT1.

Perdalam alur

Sebelum pemasangan tiga CC baru itu, lanjut Riry, akan dipersiapkan lebih dulu penguatan dermaga dan kedalaman alur kolam pelabuhan hingga 16 LWS agar dapat melayani kapal sampai kapasitas 8.000 TEUs.

Namun, dia tidak bersedia menyebutkan nilai investasi penggantian tiga unit CC itu dan hanya mengatakan investasi awal untuk sarana penunjang saja, seperti penguatan dermaga dan pengerukan kolam pelabuhan, diperkirakan butuh Rp150 miliar.

Riry mengatakan, empat CC dari tujuh CC yang dioperasikan TPK Koja tetap dipertahankan karena masih banyak kapal petikemas yang dilayani berberkapasitas di bawah 8.000 TEUs .

Sementara itu, berdasarkan informasi dari sejumlah agen perusahaan pelayaran asing di Indonesia, kondisi alat di sebagian besar TPK di Pelabuhan Tanjung Priok seperti PTJakarta Internasional Container Terminal (JICT), TPK Koja, TPK MAL dan terminal lainnya sudah ketinggalan zaman dan kurang produktif.

Selain itu, tingkat jangkauan CC paling tinggi 17 row sehingga produktivitas bongkar muatnya sangat rendah. Sebagai gambaran, jangkauan CC di berbagai negara di dunia kini umumnya di atas 29 row dan dioperasikan secara digital.

Menurut Direktur NPCT1 Supardjo Kasnadi, NPCT1 kini mengoperasikan delapan unit crane canggih jenis Super Post Panamax dengan jangkauan 23 row dengan produktivitas bongkar muat petikemas di atas 80 boks/jam/kapal.

Dia mengakui kapal petikemas internasional mulai banyak melirik NPCT1, meskipun fasilitas terminalnya belum memadai. Fasilitas bahandle, CY (container yard) dan gate keluar masuk petikemas di terminal itu masih dipersiapkan dan dalam proses pembangunan.

"Memang minat dari perusahaan pelayaran internasional untuk singgah di NPCT1 sudah banyak," tuturnya.

Dia mengatakan mulai 1 Januari 2018 untuk sementara NPCT1 terpaksa harus menghentikan kegiatan marketing dan akan dibuka kembali setelah fasilitas benar-benar lengkap dan siap. "Supaya pemakai jasa NPCT1 tidak kecewa," ujarnya. (hlz/hlz)


Komentar