Selasa, 16 Oktober 2018 | 19:29 WIB

Kunjungi di social media :
Home / Regulasi / Bea Cukai
Jumat, 16 Maret 2018 14:54

Ditjen Bea Cukai Butuh Direktorat Khusus Pemberantasan Narkoba

Ire Djafar
Kasi Narkotika Junianto Kurniawan dan Kasi Humas Devid S. (translogtoday/ire)

JAKARTA -

Direktorat Jenderal Bea dan Cukai Kementerian Keuangan dinilai membutuhkan seorang pejabat setingkat direktur guna memaksimalkan pemberantasan narkoba di wilayah kerjanya. 

Saat ini jabatan bagian narkotika di Ditjen Bea Cukai baru setingkat Kepala Seksi (Kasi) Narkotika atau eselon IV, yang tingkat kewenangannya berkoordinasi kepada Kepala Subseksi (Kasubsi) Penindakan dan Penyidikan (P2) pada Direktorat P2 Ditjen Bea Cukai.

Kebutuhan direktur itu mengemuka saat Humas BC mengadakan Media Briefing dengan Forum Wartawan Bea & Cukai (Forwabeac) di Media Center Kantor Ditjen BC Jakarta, Rabu (14/3).

Kasi Humas Devid Silungkang didampingi Kasi Narkotika DJBC Junianto Kurniawan mengungkapkan sejumlah keberhasilan pencegahan masuknya narkotika ke beberapa wilayah di Indonesia.

"Seperti yang terjadi baru-baru ini, yaitu penangkapan MV. Sunrise Glory dengan barang bukti 1 ton 371,5 kg shabu-shabu," kata Devid. 

Dia mengatakan keberhasilan itu merupakan sinergi antara aparat Badan Narkotika Nasional (BNN), Kepolisian RI, dan TNI Angkatan Laut.

Namun Devid menyayangkan sejumlah wartawan yang mempertanyakan kehadiran Menteri Keuangan Sri Mulyani dalam jumpa pers penangkapan narkoba. 

"Ada apa Menteri Keuangan hadir dalam press release kasus narkotika? Apa kaitannya?” Itulah pertanyaan yang dilontarkan beberapa rekan wartawan," ujarnya.

Devid menjelaskan bahwa Kementerian Keuangan membawahi sejumlah direktorat, termasuk di dalamnya Direktorat Jenderal Bea dan Cukai, yang antara lain bertugas mencegah masuknya barang haram tersebut.

Sementara itu, Kasi Narkotika Junianto Kurniawan mengatakan Seksi Narkotika sudah dibentuk sejak tahun 2007, di bawah Direktur Penindakan dan Penyidikan (P2).

Menjawab pertanyaan wartawan terkait besarnya jumlah shabu-shabu yang masuk kewilayah Indonesia dan bagaimana upaya pencegahan yang dilakukan DJBC? 

Junianto menegaskan pihaknya akan terus ikut serta memerangi dan memberantas narkoba seoptimal mungkin, dengan tetap bekerja sama dan berkoordinasi dengan instansi terkait.

"Kita peduli terhadap narkoba. Oleh karena itu, kita melakukan koordinasi dan bersinergi dengan instansi terkait, seperti BNN, TNI-AL, TNI-AD, Kementerian Perhubungan dan Kepolisian. TNI-AL memiliki kapal besar, Polisi Perairan memiliki kapal besar, Kemenhub memiliki kapal besar. Kami sangat berharap kepada mereka,” ujar Junianto.

Namun, dia mengakui keterbatasan sumber daya manusia dalam penanganan narkotika merupakan salah satu kelemahan di Ditjen BC. Selain jumlah personil terbatas, kemampuan dalam menangani narkotika sangat sedikit. 

"Sesuai dengan perkembangan zaman, Dirjen BC membutuhkan pimpinan yang khusus menangani narkotika setingkat eselon II,  yang fungsinya memberikan asistensi ke wilayah-wilayah,” ujarnya.

Bahaya Narkoba 

Junianto menjelaskan tentang bahaya narkotika yang sudah sangat luas. Bahkan sudah sampai menyusup ke hampir seluruh sendi-sendi kehidupan masyarakat bahkan ke instansi pemerintahan.

Berdasarkan data tahun 2014, tercatat 5 juta orang yang sudah ketergantungan sebagai penguna narkotika. Jika diasumsikan 1 gram per minggu per orang dikali 4 minggu dikali 5 juta orang, maka kebutuhan per bulannya mencapai 20 ton.

Bila dikalikan per tahun berarti 12 dikali 20 ton maka kebutuhan setahun adalah 240 ton. Jika dirupiahkan sesuai harga bandar 600 juta per kg dikali 1.000 kg sama dengan Rp600 miliar. Artinya jika dikali 240 ton per tahun, maka uang belanja narkotika per tahun mencapai Rp144 triliun.

Junianto mengungkapkan, saat ini sindikat narkotika sudah bersinergi dan modus operandi sindikat narkotika selalu berubah-ubah. Dahulu sabu-sabu berbentuk kristal, tetapi saat ini sudah diciptakan berbentuk cairan.

Dan kalau dahulu daerah favorit penyelundupan narkotika adalah di pesisir pantai timur Sumatra, saat ini sudah bergeser ke perbatasan Dilli.

“Saat ini tidak adalagi kelompok Niger, kelompok Taiwan, kelompok Amrik dan kelompok Hongkong atau China. Mereka sudah menyatu, sehingga dalam pengembangan kasus sudah samar. Jadi bukan hanya aparat penegak hukum yang bersinergi. Sindikat ini selalu selangkah lebih maju dari aparat,” papar Junianto.

Saat ini upaya untuk menangkal masuknya narkotika yang dimiliki Ditjen BC Unit K9 (Anjing Pelacak). K9 sudah terbukti keampuhannya melacak keberadaan narkotika.

Salah satu contoh penangkapan MV Sunrise Glory di Batam. Tadinya penyelidikan di kapal sempat dikatakan tidak ada barang bukti, tetapi dengan hasil penciuman K9, akhirnya ditemukanlah sabu-sabu 1 ton 371,5 kg.

Menurut Junianto, ada upaya-upaya asing hendak melakukan pembodohan terhadap masyarakat Indonesia melalui peredaran narkotika Indonesia. Sehingga Indonesia ditargetkan market narkotika internasional.

Sebagai contoh, tutur Junianto, harga sabu-sabu di China hanya Rp20.000 per kg dan di Malaysia Rp300.000 per kg, sementara di Indonesia harga 1 kg sabu-sabu mencapai Rp600 juta-700 juta.

(hlz/hlz)


Komentar