Selasa, 19 Juni 2018 | 06:02 WIB

Kunjungi di social media :
Home / Logistik / Freight/Cargo
Selasa, 27 Maret 2018 16:02

IPC Segera Evaluasi OPP/OPT Angkutan Pipa dalam Petikemas

Aidikar M. Saidi

JAKARTA -

PT Pelabuhan Indonesia II (Persero)/IPC segera mengevaluasi pungutan OPP/OPT (Ongkos Pelabuhan Pemuatan/Ongkos Pelabuhan Tujuan) untuk angkutan pipa menggunakan petikemas.

"Akan dievaluasi dulu dan nanti hasilnya bisa dibahas," ujar Saptono Irianto, Direktur Komersial Pelindo II kepada Translogtoday, Selasa (27/3/2018).

Dia meminta agar perusahaan pemakai jasa untuk melaporkan pelabuhan mana saja yang memungut OVD (over dimensi) terhadap angkutan pipa itu.

Berdasarkan Informasi dari perusahaan pelayaran dan forwarding, pelabuhan yang memungut tarif OVD terhadap muatan pipa itu adalah Tanjung Priok, Pontianak dan Palembang.

Adapun di Pelabuhan Jambi, Lampung dan Teluk Bayur, taif itu tidak dipungut, kecuali untuk storage. Demikian juga di pelabuhan-pelabuhan yang dikelola oleh Pelindo I, III dan IV.

Pungutan OVD terhadap angkutan pipa menggunakan petikemas oleh Pelindo II tersebut diprotes oleh pemilik barang dan perusahaan pelayaran.

Di Tanjung Priok, Pontianak dan Palembang, petikemas angkutan ukuran 20 kaki dipungut biaya OPP /OPT lebih dari Rp3 juta atau tiga kali lipat dari tarif belum termasuk biaya storage

Begitu juga di Palembang dan Pontianak, sehingga biaya OPP/OPT untuk pengiriman pipa pada rute itu sebesar Rp7 juta ditambah freight Rp3 juta hingga Rp4 juta atau dua kali lipat dari freight.

Biaya angkutan pipa setelah kontenernisasi menjadi tinggi, setelah kapal jenis lost cargo sudah tidak beroperasi lagi didalam negeri.

Pasalnya dari pabrik ukuran pipa standarnya 6 meter dan panjang petikemas 20 kaki 5,9 meter dan bila dimuat ke petikemas 40 kaki perusahaan pelayaran menolak karena bisa merusak petikemas.

Perusahaan pelayaran PT Meratus Lines, PT Tanto Intim Lines, PT Tempuran Emas, PT SPIL dan sejumlah perusahaan pelayaran lainnya sudah melaporkan masalah ini kepada INSA.

Mereka sebenarnya tidak keberatan ada pungutan tambahan 10% dari tarif, sebab tarif OVD sebesar 250% itu dibebankan ke angkutan pipa sama dengan pungutan tanpa jasa. “Sebab kalau menggunakan OVD menggunakan alat khusus, sedangkan pipa tidak menggunakan alat khusus,” ujarnya.

(hlz/hlz)


Komentar