Senin, 22 Oktober 2018 | 13:13 WIB

Kunjungi di social media :
Home / Transportasi / Pelayaran
Rabu, 28 Maret 2018 18:13

BMKG: Waspadai Gelombang Tinggi di Perairan Indonesia Timur

Ire Djafar
Kepala BMKG Pusat Dwikorita Karnawati (BMKG)

JAKARTA -

Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) Pusat mencatat intensitas gelombang tinggi yang meningkat di perairan Indonesia Tengah dan Timur. Hal itu diakibatkan tumbuhnya siklon tropis Jelawat yang termonitor melalui Tropical Cyclone Warning Center (TCWC) Jakarta sejak Minggu (25/3/2018).

Berdasarkan pantauan TVWC Jakarta pada Rabu (28/3/2018), gangguan siklon tropis Jelawat masih aktif dan berada di Samudera Pasifik sebelah Utara Papua Barat, tepatnya di 11,7-LU, 135,5 BT (sekitar 1410 km sebelah utara Manokwari).

Siklon Jelawat bergerak ke utara dengan kecepatan 6 knots (11 km/jam) menjauhi wilayah Indonesia. Tekanan terendahnya 994 mb dengan kecepatan angin maksimum mencapai hingga 40 knots (75 km/jam).

Siklon Tropis Jelawat juga memicu hujan dengan intensitas ringan yang berpeluang di wilayah Kalimantan Bagian Utara, Sulawesi Bagian Utara, Maluku Utara dan Papua Barat Bagian Utara.

Tidak hanya itu, gelombang tinggi mencapai 1,25-2,5 meter berpotensi terjadi di Laut Maluku, Perairan Utara Gorontalo, Laut Sulawesi Bagian Tengah dan Timur, Perairan Kepulauan Sangihe, Perairan Bitung Manado, Perairan Utara dan Timur Kepulauan Halmahera, Perairan Utara Papua Barat dan Perairan Utara Jayapura-Sarmi.

Adapun tinggi gelombang 2,5-4 meter berpotensi terjadi di Samudera Pasifik Utara Halmahera hingga Papua.

Kepala BMKG Pusat Dwikorita Karnawati mengatakan gangguan tropis Jelawat lahir dari pusat tekanan rendah yang tumbuh akibat kondisi perairan dan atmosfer yang mendukung sehingga mencapai intensitas siklon tropis di wilayah Perairan Utara Papua.

"Siklon Tropis Jelawat termonitor sejak tiga hari lalu. BMKG berkewajiban memberikan informasi peringatan dini terkait siklon tropis," ungkap Dwikorita di Kantor BMKG Pusat, Kemayoran Jakarta, Rabu (28/3/2018).

Pergerakan siklon ke depan, sambung Dwikorita, belum diketahui akan berlangsung sampai kapan. "Kita belum tahu. Biasanya aktif sampai 10 hari bila pergerakannya masih di sepanjang perairan. Tapi bila pergerakannya mengarah ke darat, siklon aktif paling lama 2 hari," ujarnya.

Sejak berdiri 10 tahun lalu pada 28 Maret 2008, TCWC Jakarta telah memonitor 13 siklon tropis yang melintasi wilayah geografis Indonesia, baik daratan maupun lautan.

BMKG juga telah menamakan lima siklon tropis yang tumbuh di wilayah tanggung jawab TCWC Jakarta berdasarkan nama bunga, yakni siklon Tropis Durga, Anggrek, Bakung, Cempaka dan Dahlia.

TCWC Jakarta pada tahun ini memperingati 10 Tahun berdirinya pusat peringatan siklon tropis, dirangkai dengan peringatan Hari Meteorologi Dunia yang mengangkat tema Waspada Cuaca, Peduli Iklim Untuk Masyarakat Aman dan Sejahtera. (hlz/hlz)


Komentar