Jumat, 17 Agustus 2018 | 02:59 WIB

Kunjungi di social media :
Home / Logistik / Supply Chain
Rabu, 04 April 2018 16:51

Survei: Kinerja Sektor Logistik Membaik, Daya Saing Tetap Lemah

Translog Today
Ketua SCI Setijadi (translogtoday)

JAKARTA -

Sektor logistik Indonesia belum mampu bersaing di tingkat Asean, meskipun kinerja sektor tersebut diyakini membaik seiring dengan perbaikan infrastruktur, regulasi, dan iklim investasi di dalam negeri.

Kesimpulan itu terungkap dalam hasil survei sektor logistik  Indonesia 2017-2018 yang digelar oleh Supply Chain Indonesia (SCI), bekerja sama dengan Asosiasi Logistik dan Forwarder Indonesia (ALFI) dan Asean Federation of Forwarders Association (AFFA).

Survei dilakukan pada periode 15 Januari-28 Februari 2018, diikuti 548 pelaku usaha dan penyedia jasa logistik, pemilik barang, akademisi, birokrasi, pemerhati dan pihak terkait di bidang logistik.

Berdasarkan survei tersebut, ungkap Ketua SCI Setijadi, 59,7% responden menyatakan kinerja sektor logistik pada 2017 secara umum lebih baik dibandingkan dengan tahun sebelumnya.

“Sebanyak 65,8% responden juga menyatakan kinerja sektor logistik Indonesia pada 2018 secara umum akan lebih baik dibandingkan tahun lalu,” katanya saat merilis hasil survei tersebut di Jakarta, Rabu (4/4/2018).

Mengenai daya saing, jumlah responden hampir berimbang antara yang menyatakan sektor logistik Indonesia lebih baik 30,9%, menyatakan sama 31,9%, dan menyatakan lebih buruk 30,9% dibandingkan dengan negara Asean lainnya.

“Apabila memperhatikan persaingan global, keberhasilan pengembangan sektor logistik Indonesia masih memerlukan perbaikan yang berkelanjutan untuk meningkatkan daya saing nasional,” ujar Setijadi.

Dia mengatakan, sebanyak 73,5% responden menilai kondisi infrastruktur secara umum sudah baik atau sangat baik dalam mendukung kinerja logistik pada 2017. Namun, 23,8% responden menyatakan kondisinya masih buruk atau sangat buruk.

Khusus untuk infrastruktur kepelabuhanan, 70,2% responden menyatakan kondisi sudah baik atau sangat baik, sedangkan 25,4% menilai kondisinya masih buruk atau sangat buruk.

Penilaian positif juga diberikan mayoritas responden untuk infrastruktur jalan (72% menilai baik atau sangat baik), infrastruktur kereta api (63,3%), dan infrastruktur bandara (81,3%).

Kondisi infrastruktur yang membaik sejalan dengan laporan Global Competitiveness Index 2017-2018 dari World Economic Forum (WEF) terhadap kualitas infrastruktur Indonesia naik ke peringkat 68 dari peringkat 80 pada tahun 2016-2017.

Peningkatan kualitas infrastruktur terjadi hampir di semua moda, yakni jalan dari nilai 3,9 menjadi 4,1, kereta api dari 3,8 menjadi 4,2, pelabuhan dari 3,9 menjadi 4,0, dan bandara 4,5 menjadi 4,8.

Meski demikian, lanjut Setijadi, kualitas infrastruktur Indonesia masih di bawah Singapura yang berada di peringkat 2 global (nilai 6,5), Malaysia peringkat 22 (nilai 5,5), dan Thailand peringkat 43 (nilai 4,7).

Faktor Daya Saing 

Menanggapi hasil survei tersebut, Ketua Umum DPP ALFI Yukki Nugrahawan Hanafi mengatakan beberapa faktor yang membuat daya saing logistik Indonesia rendah, antara lain masalah multimoda, regulasi, dan big data atau transparansi.

“Harus diakui infrastruktur kita sudah lebih baik, tetapi tetap kalah dibandingkan dengan infrastruktur negara Asean lainnya. Biaya logistik kita juga masih tertinggi di Asean. Ini PR kita bersama untuk dicarikan solusinya,” ujar Yukki.

Berdasarkan proyeksi ALFI, kontribusi biaya logistik nasional terhadap produk domestik bruto (PDB) pada 2017 mencapai 23,5%, kemudian turun menjadi 22,1% pada 2018, dan 21,0% pada 2019.

Menurut dia, potensi pertumbuhan sektor logistik Indonesia juga cukup tinggi mengingat pasar Indonesia yang masih sangat besar, apalagi dibandingkan dengan negara Asean lainnya. Sebagai gambaran, pada periode 2013-2017 sektor logistik nasional tumbuh 11,7% per tahun.

Yukki juga menyoroti masih banyak aturan yang tumpang tindih antara pemerintah pusat dan pemerintah daerah, selain ketidakharmonisan regulasi di bidang logistik. “Ego sektoral harus dihilangkan agar biaya logistik menjadi efisien, sistem pelayanan online juga perlu segera diintegrasikan,” ungkapnya.

(hlz/hlz)


Komentar