Senin, 24 September 2018 | 10:39 WIB

Kunjungi di social media :
Home / Transportasi / Pelabuhan
Senin, 09 April 2018 21:05

Pelindo III Gandeng Swasta Sediakan Layanan Shore Connection dan Logistik

Ayu Puji
(Pelindo III)

SURABAYA -

PT Pelabuhan Indonesia III (Persero) beserta anak usahanya PT Berlian Jasa Terminal Indonesia (BJTI) dan cucu usahanya PT Lamong Energi Indonesia (LEGI) menjalin kerja sama dengan lima perusahaan pelayaran swasta dan satu perusahaan logistik.

Kerja sama itu diwujudkan lewat penandatanganan Letter of Intent (LoI) antara Pelindo III dan tiga perusahaan swasta, yaitu PT Mentari Line, PT Tanto Intim Line, dan PT Pelayaran Tempuran Emas Tbk.

LoI tersebut merupakan tindak lanjut kerja sama antara BJTI dan LEGI untuk penyediaan fasilitas shore connection kapal. Acara penandatanganan LoI, kerja sama, dan Memorandum of Collaboration (MoC) berlangsung di Kantor Pusat Pelindo III, Surabaya, Senin (9/4/2018).

Penandatanganan dilakukan langsung oleh CEO Pelindo III Ari Askhara, Direktur Operasional PT Mentari Line Anthony Soenardi, Manager Operation PT Tanto Intim Line David Tan, Operational Director PT Pelayaran Tempuran Teddy Arief Setiawan, Direktur Operasi dan Teknik PT BJTI Warsilan, dan Direktur PT LEGI Edward Danner Pardammean Napitupulu.

Kerja sama juga diikuti oleh dua perusahaan pelayaran lainnya, yakni antara PT LEGI dengan PT Meratus Line dan PT SPIL berupa penyediaan fasilitas shore connection kapal. Kerja sama masing-masing ditandatangani oleh General Manager Operations Meratus Line Rudy Supriadi dan Direktur Keuangan SPIL Dedy Wijaya.

Shore connection merupakan salah satu layanan penyediaan pasokan daya listrik dari dermaga ke kapal yang bertujuan memenuhi kebutuhan listrik pada mesin utama kapal dan mesin bantu kapal.

Fungsinya untuk membantu pengoperasian kapal untuk mesin induk, operasi muatan, mesin generator, navigasi dan mendukung kegiatan operasi mesin kapal lainnya.

“Kapal yang sandar di dermaga nantinya tidak lagi menggunakan BBM Auxiliary Engine dengan biaya relatif mahal, tetapi menggunakan shore connection pasokan listrik dengan biaya lebih murah,” kata CEO Pelindo III Ari Askhara saat memberikan sambutannya.

Menurut dia, shore connection tentunya akan lebih efisien dan ramah lingkungan. “Ini merupakan salah satu ekstensifikasi layanan Pelindo III kepada pengguna jasa untuk lebih efisien dalam penggunaan energi sehingga biaya operasional mereka bisa lebih murah,” jelasnya dalam siaran pers.  

Ari menjelaskan bahwa penggunaan shore connection mempunyai beberapa keuntungan, antara lain energy saving karena dapat mengurangi konsumsi bahan bakar kapal pada saat kapal bersandar.

Kapal mendapat pasokan listrik yang ada di dermaga, sehingga dapat menyumbang efisiensi biaya energi, cost competitive karena lebih murah apabila menggunakan pasokan listrik dibandingkan dengan mengkonsumsi bahan bakar lain.

Selain itu, ramah lingkungan sebab mengkonversi BBM Auxiliary Engine menjadi elektrifikasi, memangkas kadar CO2 karena dapat mengurangi emisi gas karbon yang berasal dari aktivitas kepelabuhanan.

“Saat ini shore connections sudah dapat dioperasikan untuk melayani kapal petikemas domestik dan kemungkinan ke depannya juga akan melayani kapal petikemas internasional,” ungkap Ari.

GM Operations Meratus Line Rudy Supriadi mengatakan pihaknya sudah lama mengharapkan fasilitas shore connection karena tidak perlu lagi menggunakan BBM Auxiliary Engine pada saat kapal sandar di pelabuhan.

“Perawatan kapal juga akan lebih hemat dan tentunya penerapan shore connection di lingkungan pelabuhan seperti ini membuat kualitas Keselamatan dan Kesehatan Kerja (K3) menjadi lebih baik. Kalau bisa jumlah shore connection ditambah lagi,” ujarnya.

Kerja Sama Logistik

Adapun untuk pengelolaan pusat logistik berikat/gudang logistik, Pelindo III menggandeng PT Khrisna Group. Perjanjian kerja sama dituangkan dalam MoC dengan ditandatangani oleh Ari Askhara dan CEO Khrisna Group Anak Agung Ngurah Mahendra.

Ari menjelaskan pengelolaan PLB dilakukan di kawasan logistik berikat pada lokasi gudang atau lapangan yang telah dikhususkan oleh Direktorat Jenderal Bea dan Cukai sebagai area berikat untuk komoditas ekspor-impor. Adapun pengelolaan gudang logistik dilaksanakan di luar area kawasan berikat dengan jenis komoditas sesuai dengan permintaan pelanggan.

“Untuk saat ini, area kerja untuk pengelolaan pusat logistik berikat dan gudang logistik akan dilakukan di Pelabuhan Benoa Bali,” kata Ari.

CEO Khrisna Group mengungkapkan, pihaknya melihat fasilitas dan infrastruktur di Pelabuhan Benoa cukup memadai sebagai lokasi hub untuk regulated agent dari layanan logistik Khrisna. Fasiliatas itu diharapkan mendorong distribusi yang lebih agresif dan memperluas pasar produk Indonesia di dunia.

(hlz/hlz)


Komentar