Rabu, 14 November 2018 | 15:31 WIB

Kunjungi di social media :
Home / Transportasi / Bandara
Rabu, 18 April 2018 11:01

Terminal Baru Bandara Ahmad Yani Dinilai Boros dan Kurang Efektif

Translog Today
(AP I)

JAKARTA -

Anggota Komisi V DPR RI Bambang Haryo Soekartono menilai pembangunan terminal baru Bandara Ahmad Yani Semarang kurang memperhatikan unsur keselamatan penerbangan dan pengembangan ke depan.

Dia menemukan sejumlah pemborosan dan ketidakefektivan biaya pembangunan terminal baru yang menyedot anggaran hingga Rp2 triliun itu, setelah meninjau langsung proyek tersebut pada Minggu (15/4/2018).

“Kesimpulan saya, pembangunan terminal baru ini kurang direncanakan dengan baik untuk keselamatan penerbangan dan pengembangan jangka pendek, jangka menengah, hingga jangka panjangnya,” kata Bambang Haryo, Selasa (17/4/2018).

Menurut dia, sedikitnya ada lima masalah yang dia temukan dalam pembangunan terminal baru Bandara Ahmad Yani.

Pertama, pemerintah membangun terminal baru berkapasitas 6 juta penumpang per tahun, padahal saat ini terminal lama sudah menampung penumpang sekitar 4,5 juta penumpang pada 2017 dan diproyeksikan mencapai 5,75 juta orang pada 2019.

Artinya, saat terminal baru itu beroperasi kapasitas bandara sudah penuh (overload). Ini menunjukkan perencanaan proyek itu tidak mengantisipasi pertumbuhan arus penumpang meskipun untuk jangka pendek 3-5 tahun.

Kedua, terminal baru dibangun di seberang atau berhadapan dengan terminal lama, sehingga menutup peluang Bandara Ahmad Yani untuk menambah satu landasan (runway) lagi, padahal kondisi saat ini saja sudah overload.

Ketiga, terminal baru itu juga tidak terkoneksi dengan jalur kereta api yang berada di dekat terminal lama. Sehingga menghilangkan potensi interkoneksi bandara dengan moda transportasi kereta api untuk pengembangan ke depan.

Keempat, terminal baru mempunyai areal parkir pesawat atau parking stand 12 buah, yang terdiri dari 10 untuk pesawat neurobody (berbadan kecil) dan dua wide body (berbadan besar).

Namun, runway tempat mendarat pesawat mempunyai PCN (Pavement Classification Number) 53, yang berarti runway tersebut tidak layak didarati oleh pesawat berbadan besar.

“Fasilitas yang disediakan untuk pesawat berbadan besar jadi percuma. Jelas bahwa sinkronisasi perencanaan tiga faktor penting di areal bandara, yakni kapasitas terminal, apron/parking stand, dan runway, tidak direncanakan dengan baik padahal seharusnya mempunyai kapasitas seimbang,” ujarnya.

Kelima, terminal baru direncanakan menjadi eco green terminal dengan menambah habitat mangrove di sekitar bandara sebanyak 24 ribu bibit tanaman itu.

“Saya justru melihat perencanaan pembangunan eco green terminal ini tidak memikirkan keselamatan penerbangan,” kata Bambang Haryo.

Pasalnya, menurut anggota Fraksi Gerindra DPR RI ini, penanaman bibit pohon mangrove di sekitar terminal mengakibatkan tumbuhnya habitat laut dan darat berupa ikan, kepiting dan sebagainya yang akan mendorong pertumbuhan predator ikan dan habitat lainnya seperti bangau, rajawali dan lain-lain.

“Hal ini tentu membahayakan penerbangan karena muncul komunitas burung di areal bandara. Pesawat bisa tertabrak buruk sehingga kaca pesawat pecah ataupun mesin menjadi rusak, sehingga mengakibatkan pembatalan penerbangan bahkan kecelakaan. Saya menghimbau agar mangrove tidak ditambah,” ujarnya. 

(hlz/hlz)


Komentar