Selasa, 16 Oktober 2018 | 08:18 WIB

Kunjungi di social media :
Home / Transportasi / Pelabuhan
Sabtu, 21 April 2018 05:26

Terminal Teluk Lamong Pacu Kinerja 2018

Ayu Puji Rahayu
Presiden Direktur Terminal Teluk Lamong (TTL) Dothy (translogtoday)

SURABAYA -

Terminal Teluk Lamong, Pelabuhan Tanjung Perak, Surabaya, terus memacu kinerja produksi peti kemas dan curah kering seiring dengan permintaan pengguna jasa yang semakin tinggi.

Presiden Direktur Terminal Teluk Lamong (TTL) Dothy mengungkapkan throughput atau arus peti kemas dan curah kering tumbuh setiap tahun secara signifikan. Tahun ini, throughput ditargetkan 545.610 TEUs atau naik 10,6% dibandingkan dengan tahun lalu 493.071 TEUs. 

“Arus peti kemas terus tumbuh setiap tahun, bahkan tahun lalu melonjak 102% dibandingkan dengan tahun sebelumnya 243.250 TEUs,” ungkapnya kepada Translogtoday, belum lama ini.

Anak perusahaan PT Pelabuhan Indonesia III (Persero) itu juga memproyeksikan produksi curah kering atau dry bulk naik 63% menjadi 1.980.000 ton hingga akhir tahun ini.

Pada 2016, tuturnya, produksi curah kering TTL tercatat 1.101.416 ton dan pada 2017 meningkat 9,97% menjadi 1.211.239 ton. 

Dothy mengatakan layanan curah kering di TTL didukung dengan peralatan serba canggih dan ramah lingkungan. “Kami juga melayani jasa bongkar curah kering, khusus untuk komoditas food dan feed grain,” ujarnya.

Selain dua unit grab ship unloader (GSU) berkapasitas 2.000 ton per jam, terdapat dua jalur conveyor beltyang terintegrasi dengan gudang penumpukan sementara sehingga truk tidak perlu menunggu terlalu lama.

“Dengan dua GSU itu, kecepatan waktu bongkar curah kering TTL lebih cepat dua kali dibandingkan dengan terminal sebelumnya di Tanjung Perak,” ungkap Dothy.

Seluruh peralatan curah kering TTL juga terintegrasi dan bermuara di gudang penumpukan sementara itu. Gudang seluas 10 hektare tersebut bisa menampung hingga 200.000 ton komoditas curah kering.

“Kapasitas bongkar curah kering TTL berpotensi menjadi yang terbesar di Indonesia, yakni mencapai 17 juta ton per tahun.

Dothy mengatakan, saat ini pembangunan fasilitas dan peralatan curah kering masih tahap pertama. Memasuki tahap kedua, TTL akan menambah kapasitas dermaga sehingga panjang total 500 meter. 

Kedalaman kolam dermaga curah kering saat ini -14 mLWS akan dilakukan pengerukan hingga kedalamannya menjadi -16 mLWS.

Dalam waktu dekat, TTL segera melakukan pendalaman kolam dermaga curah kering minimum -14 mLWS karena TTL sudah berhasil menarik kapal dengan kedalaman minus 13-13,2 mLWS. 

Posisi TTL sebagai first discharge port atau single port akan memberikan dampak positif kepada masyarakat karena biaya logistik tentu dapat ditekan. 

Jika semakin banyak kapal curah kering berukuran besar yang menjadikan TTL sebagai single port, maka sesuai dengan rencana akan dilakukan penambahan kapasitas dermaga.

Pada Februari 2018, kata Dothy, sudah dilakukan first call langsung dari Brasil ke Surabaya (TTL) dengan muatan soybean meal (SBM). Tahun sebelumnya, kapal itu terlebih dahulu bersandar dan bongkar di pelabuhan yang lain.

Layani Curah Cair 

Dalam jangka panjang, ungkapnya, alur dan kolam akan lebih diperdalam lagi sampai lebih dari -16 mLWS karena ada proyeksi TTL melayani bongkar curah cair (liquid bulk) yakni LNG.

Menurut proyeksi pemerintah dalam RIP (Rencana Induk Pelabuhan), ke depan ukuran kapal LNG yang perlu dilayani di wilayah Pelabuhan Tanjung Perak cukup besar yang membutuhkan kedalaman -16 mLWS.

Ke depan, dia berencana menambah pasar baru pelayanan, baik pada peti kemas internasional maupun domestik, di antaranya kapal-kapal besar milik pelayaran global. 

Pada 2017, call (kedatangan) kapal peti kemas internasional dan domestik di TTL tercatat sebanyak 877 kapalterdiri dari 257 kapal internasional dan 620 kapal domestik. Adapun kapal curah kering sebanyak 39 call, yakni 34 kapal internasional dan 5 kapal domestik. 

Sebagai informasi tambahan, selama 2016 rata-rata ukuran panjang atau length overall (LOA) kapal-kapal yang masuk di TTL kurang lebih 225 meter. Pada tahun 2017, LOA meningkat menjadi rata-rata 250 - 260 meter.

Sejalan dengan visi sebagai terminal ramah lingkungan, tambah Dothy, TTL melalui anak perusahaannya PT Lamong Energi Indonesia (LEGI) bekerja sama dengan PT Meratus Line dan PT SPIL kini menyediakan fasilitas on shore connection kapal. 

Shore connection merupakan salah satu layanan penyediaan pasokan daya listrik dari dermaga ke kapal yang bertujuan memenuhi kebutuhan listrik pada mesin utama kapal dan mesin bantu kapal.

Fungsinya untuk membantu pengoperasian kapal untuk mesin induk, operasi muatan, mesin generator, navigasi dan mendukung kegiatan operasi mesin kapal lainnya.

“Kapal yang sandar di dermaga nantinya tidak lagi menggunakan bahan bakar minyak dengan biaya relatif mahal, tetapi menggunakan shore connection pasokan listrik dengan biaya lebih murah dan tentunya ramah lingkungan,” ujarnya. 

(hlz/hlz)


Komentar