Minggu, 16 Desember 2018 | 04:08 WIB

Kunjungi di social media :
Home / Transportasi / Pelabuhan
Rabu, 30 Mei 2018 12:47

Pelabuhan Sungai Lais Bisa Tampung Kapal Curah dari Boom Baru

Aidikar M. Saidi
Pelabuhan Boom Baru Palembang

PALEMBANG - Pelabuhan Boom Baru Palembang dinilai sulit dikembangkan. Sebagai alternatif, Pelabuhan Sungai Lais perlu dioptimalkan untuk menampung kapal bermuatan curah.

Selama ini kapal curah kering, curah cair dan bag cargo sering antre menunggu sandar di Pelabuhan Boom Baru karena terbatasnya fasilitas dermaga.

Pelabuhan Sungai Lais yang berjarak sekitar 8 km dari Pelabuhan Boom Baru itu memiliki lahan sedikitnya 200 hektare milik PT Pelabuhan Indonesia II (Persero)/IPC.

Untuk menjawab tantangan pengembangan lahan Pelabuhan Boom Baru yang terbatas, Pelindo II Cabang Palembang kini menerapkan upaya optimalisasi.

Upaya pertama adalah penataan ulang pola operasional, khususnya terhadap gudang penerima yang berada di luar lokasi pelabuhan.

"Kami ingin merealisasikan kesepakatan agar menambah jam kerja. Sebab untuk jumbo bag, gudang penerima hanya buka sampai pukul 5 sore. Diharapkan waktu kerja di gudang paling tidak bisa sampai pukul 12 malam," kata General Manager IPC Palembang Agus Edi Santoso.

Dia didampingi Deputy GM Komersial Sabar Hariono ketika dikonformasi Translogtoday mengenai permasalahan Pelabuhan Boom Baru tersebut, Rabu (30/5/2018).

Potensi Pelabuhan Sungai Lais

Agus Edi mengatakan Pelindo II juga segera mengembangkan potensi Pelabuhan Sungai Lais. Saat ini, ada empat perusahaan yang memanfaatkan lahan Pelabuhan Sungai Lais yakni PT London Sumatera, PT Dinar Jaya Energi, PT Trimitra Palm Niaga, dan PT Petro Arta Indo.

"Pelabuhan Sungai Lais punya lahan seluas 200 hektare, dan lahan yang nganggur masih sangat luas. Ke depan, permintaan baru kegiatan curah cair dan curah kering akan ditangani di sana," ujarnya.

Sebagai aset terpendam, Pelabuhan Sungai Lais merupakan lahan yang belum sepenuhnya berproduksi secara optimal.

Sebagian besar lahan disewakan kepada PT London Sumatera (sebagai mitra terbesar Pelindo II) dan beberapa perusahaan di bidang crude palm oil (CPO) dan high speed diesel (HSD).

Selain itu, Sungai Lais yang masuk dalam Daerah Lingkungan Kerja Pelabuhan (DLKP) terdapat kegiatan perahu layar rakyat yang telah lama menempati area tersebut. "Kegiatan Pelra tetap ditampung di pelabuhan ini sesuai arahan pemerintah," tuturnya. (hlz/hlz)


Komentar