Minggu, 24 Juni 2018 | 22:05 WIB

Kunjungi di social media :
Home / Transportasi / Pelabuhan
Kamis, 31 Mei 2018 14:06

Pelindo II Dukung BNN Berantas Peredaran Narkoba di Pelabuhan

Ire Djafar

JAKARTA -

PT Pelabuhan Indonesia II (Persero)/IPC menyatakan komitmen bersih dari narkoba, baik di dalam area perusahaan maupun lingkungan pelabuhan.

Hal tersebut ditegaskan Direktur Utama Pelindo II Elvyn G Masasya dalam acara penandatanganan nota kesepahaman bersama (MoU) antara Pelindo II dan Badan Narkotika Nasional (BNN) di Kantor Pusat Pelindo II, Jakarta, Kamis (31/5/2018).

MoU ditandatangani langsung oleh Dirut Pelindo II dan Kepala BNN Komjen Pol Heru Winarko. Dalam MoU ini, Pelindo II dan BNN bekerja sama dalam upaya pencegahan dan pemberantasan penyalahgunaan dan peredaran gelap narkotika.

Selain itu, kedua institusi sepakat bekerja sama dalam penyebarluasan informasi bahaya narkoba. Kesepakatn ini diteken oleh Direktur Sumber Daya Manusia dan Umum (Dirsum) Pelindo II Rizal Ariansyah dan para Deputi BNN.

Acara tersebut dihadiri para para general manager dari 12 cabang pelabuhan dan direksi anak perusahaan Pelindo II. Adapun dari BNN, hadir para deputi dan Kepala Badan Narkotika Provinsi (BNP) dari 12 provinsi.

Dalam sambutannya, Elvyn mengatakan Pelindo II sangat mendukung upaya pencegahan dan pemberantasan narkoba, apalagi di lingkungan pelabuhan yang menjadi tempat pergerakan arus barang.

Dia berharap MoU itu bisa berjalan secara efektif guna mencegah penyebaran dan penyalahgunaan narkoba di lingkungan perusahaan dan pelabuhan kelolaannya.

"Pelindo II sudah mencanangkan zerro tolerance terhadap gratifikasi, hari ini kita MoU dengan BNN sebagai komitmen zerro tolerance terhadap narkoba," kata Elvyn, sambil menambahkan pentingnya sosialisasi tentang bahaya narkoba kepada semua stakeholders di pelabuhan.

Sementara itu, Kepala BNN Heru Winarko mengatakan pihaknya terus menjalin kerja sama dengan semua pihak dalam upaya pencegahan dan pemberantasan penyalahgunaan serta peredaran gelap narkoba.

Upaya ini dilakukan mengingat narkoba tidak kalah berbahayanya dengan korupsi atau teroris. Kesepahaman antara Pelindo II dan BNN juga dianggap strategis karena selama ini penyelundupan barang haram tersebut banyak melalui laut.

Selain itu, dampak dari penyalahgunaan serta peredaran gelap narkoba telah merugikan bangsa baik secara ekonomi maupun sosial. Heru menyebutkan setiap hari rata-rata 30 orang meninggal dunia di Indonesia akibat narkoba.

Dari jenis narkoba, Pusat Laboratorium Narkotika milik BNN yang merupakan terbesar di ASEAN mendeteksi semakin banyaknya varian narkoba dalam berbagai bentuk.

Sindikat narkoba internasional juga semakin lincah mengelabui petugas, termasuk melakukan praktek money laundering dari hasil kejahatan peredaran haram narkoba.

"Tahun 2017 lalu kita berhasil menggulung 23 sindikat narkoba, tahun ini kita targetkan 26," ungkap Heru yang mengapresiasi dukungan Pelindo II kepada BNN guna memberantas penyalahgunaan dan peredaran gelap narkoba. (hlz/hlz)


Komentar